Sesuatu yang dilakukan sebagai rutinitas seringkali akan membosankan dan menjadi hal yang biasa-biasa saja. Seperti makan dan minum akan dilakukan dengan biasa-biasa saja. Kalau lapar ya makan. Kalau dahaga ya minum. Setelah merasa kenyang dan puas, maka hal itu akan menjadi biasa-biasa saja.
Tetapi, akan sangat berbeda ketika makan dan minum itu dilakukan, kemudian diberi sentuhan sedikit perenungan ringan. Dinikmati dengan nyaman, maka akan muncul betapa nikmat Allah sangat besar sekali.
Sepiring nasi yang ada di hadapan kita akan menjadi sangat bernilai manakala dinikmati dengan mengingat Yang Maha Memberi. Makan Anda yang terasa lebih dari sekedar menghilangkan rasa lapar dan menikmati makanan, karena ada kedalaman makna spiritual di dalamnya.
Segelas air yang kita minum juga akan sangat berbeda ketika kita teguk dengan penuh rasa syukur. Ada kisah menarik tentang segelas air yang bisa dijadikan renungan bagi kita. Pada suatu hari, Harun Ar-Rasyid, salah seorang khalifah pada masa Bani Abasiyah (766-809 M), tampak gelisah. Ia lalu memerintahkan salah seorang pembantunya untuk memanggilkan Abu As-Sammak, salah seorang ulama terhormat dan terkenal jujur pada masanya. “Nasehatilah aku wahai Abu As-Sammak”. Begitu kata khalifah saat As-Sammak sampai di depan khalifah..
Tidak lama kemudian, sebagaimana dikisahkan dalam Lentera Hati, karya M. Quraish Shihab, salah seorang pembantunya membawa segelas air untuk khalifah. Pada saat hendak meminumnya, tiba-tiba Abu As-Sammak menyela, “Tunggu sebentar wahai khalifah. Mohon dijawab dulu pertanyaanku dengan apa adanya. Seandainya Anda haus, lalu segelas air ini tidak ada, berapa harga yang anda bayarkan untuk menghilangkan dahagamu?”
“Setengah dari yang kumiliki,” ujar sang Khalifah dan langsung meminum segelas air tersebut. Beberapa saat kemudian setelah sang Khalifah meminum segelas air tersebut, Abu As Sammak bertanya kembali, “Seandainya apa yang telah anda minum tadi tak dapat dikeluarkan kembali, sehingga mengganggu kesehatan anda. Berapakah anda bersedia membayar untuk kesembuhan anda?”
“Setengah dari yang kumiliki,“ jawab Khalifah tegas. “Ketahuilah bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan di dunia yang nilainya hanya seharga segelas air tidak wajar diperebutkan atau dipertahankan tanpa hak dan kebenaran, “kata Abu As-Sammak menimpali jawaban sanga khalifah.
Kisah ini ingin menggambarkan betapa besar nilai segelas air. Kita menjadi kurang bersyukur dan biasa-biasa saja, karena air yang kita minum itu selalu tersedia dan (seakan) ada begitu saja. Manusia akan sangat berharga dan bernilai saat barang itu tidak ada di saat kita membutuhkannya. Uang yang kita miliki terasa tidak ada gunanya. Lihatlah bagaimana orang kaya raya yang jatuh sakit dan tidak menemukan obat yang mereka butuhkan. Seluruh hartanya ia pertaruhkan untuk mendapatkan kesembuhan itu.
Lapar dan dahaga yang sepertinya hanya pengalaman fisik juga bisa mengantarkan seseorang pada kedalaman makna. Syaratnya, kita merenungkan makna dan mampu mengambil hikmah di baliknya. Begitu juga salat yang kita lakukan selama ini. Seringkali salat dilakukan untuk menggugurkan kewajiban. Setelah itu merasa lega. Selesai salat langsung ke pekerjaan lagi. Bahkan, tidak jarang lupa dzikir, lupa berdoa. Ya, pokoknya shalat saja.
Jika itu yang kita lakukan, maka kita tidak akan sampai pada fungsi salat untuk perbaikan diri dan sebagainya. Kita tidak bisa merasakan betapa salat itu biasa mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Bahwa salat itu bisa menenangkan hati yang gundah dan galau, tidak akan didapatkan. Dalam konteks Ramadan yang penuh kemuliaan ini, seorang muslim sesungguhnya diajak oleh Yang Maha Pencipta untuk pintar-pintar mengambil hikmah dari apa yang dilakukan di bulan Ramadan. (*)
