Nuzulul Qur’an di PRM Sidomulyo Lamongan, Ustaz Hanif: Orang Tua Juga Bisa Durhaka kepada Anak

Nuzulul Qur’an di PRM Sidomulyo Lamongan, Ustaz Hanif: Orang Tua Juga Bisa Durhaka kepada Anak
www.majelistabligh.id -

Masjid Darussa’adah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidomulyo Mantup Lamongan menggelar ceramah agama dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadan 1447 Hijriyah, Ahad (8/3/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Ketua PRM Sidomulyo Drs H Darji dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menjadikan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai sarana untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an.

Menurutnya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua PCM Mantup H Ja’far Shodiq. Dalam sambutannya ia mengajak jamaah untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah kehidupan masyarakat serta menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan hadiah lomba yang sebelumnya diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Sidomulyo dalam rangka menyemarakkan Ramadan.

Hadiah diserahkan oleh Ketua PRM Sidomulyo, Ketua Takmir Masjid Darussa’adah, serta Ketua PCM Mantup, didampingi oleh Ketua Umum PR IPM Sidomulyo M Farel Dwi.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis zakat fitrah oleh PRM Sidomulyo sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

Acara inti berupa ceramah agama disampaikan oleh Ustad Hanif Ashar, yang juga menjabat sebagai Sekretaris PCM Sekaran.

Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan bahwa konsep durhaka tidak hanya berlaku bagi anak kepada orang tua. Dalam kondisi tertentu, orang tua juga bisa bersikap durhaka kepada anak apabila tidak menjalankan kewajibannya dengan baik.

Menurutnya, menjadi anak yang saleh atau salehah tidak hanya ditentukan oleh pendidikan setelah anak lahir, tetapi juga dimulai sejak orang tua memilih pasangan hidup.

“Menjadi anak saleh dan salehah tidak hanya ditentukan setelah lahir, tetapi juga dimulai sejak orang tua menentukan pasangan hidup,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara genetik maupun dalam pembentukan perilaku, karakter orang tua memiliki kemungkinan besar memengaruhi anak. Karena itu, orang tua harus berusaha menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Selain itu, Ustad Hanif juga mengingatkan pentingnya memberikan nama yang baik kepada anak, karena nama merupakan doa yang akan terus melekat sepanjang hidup.

Menurutnya, nama tidak harus berasal dari bahasa Arab, tetapi yang terpenting adalah memiliki makna yang baik.

“Nama adalah doa. Tidak harus bahasa Arab, yang penting maknanya baik. Jika ada nama yang tidak memiliki arti baik, maka sebaiknya segera diganti karena memberikan nama yang baik merupakan kewajiban orang tua,” jelasnya.

Ia juga menegaskan, orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sejak dini. Bahkan dalam mengajarkan surah-surah dasar seperti Surah Al-Fatihah, sebaiknya orang tua sendiri yang mengajarkannya kepada anak.

Hal tersebut, menurutnya, akan menjadi pahala jariyah bagi orang tua karena bacaan tersebut akan terus dibaca dalam setiap salat.

“Dalam sehari semalam Surah Al-Fatihah dibaca minimal 17 kali dalam salat. Jika orang tua yang mengajarkan, maka itu akan menjadi pahala jariyah,” ungkapnya.

Di akhir tausiyahnya, ia juga mengingatkan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dengan menyinggung makna QS Al-Furqan ayat 30, yang menggambarkan keluhan Rasulullah terhadap umatnya yang menjauh dari Al-Qur’an.

Melalui kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an ini diharapkan jamaah semakin termotivasi untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup serta menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. (as’ad fauzuddin khunaifi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search