Orang Islam Menerima Realitas

Orang Islam Menerima Realitas
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’: 125
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
Artinya: Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya).

“Orang Islam menerima realita” bisa dimaknai sebagai sikap seorang Muslim dalam menghadapi kehidupan dengan penuh kesadaran, bukan dengan ilusi atau penolakan. Dalam perspektif Qur’ani, menerima realita bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan:

* Menerima takdir Allah
Seorang Muslim meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah. Realita hidup—baik suka maupun duka—adalah bagian dari ujian dan ketetapan-Nya.

* Berusaha sebaik mungkin
Islam menekankan ikhtiar. Menerima realita bukan berarti berhenti berjuang, tetapi menyadari batas kemampuan manusia dan tetap berusaha dalam koridor syariat.

* Mengubah yang bisa diubah
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa manusia harus berusaha memperbaiki keadaan. Realita yang buruk tidak ditolak, tetapi dihadapi dengan solusi, doa, dan kerja nyata.

* Sabar dan syukur
Dua sikap utama dalam menerima realita adalah sabar ketika diuji dan syukur ketika diberi nikmat. Keduanya menjaga hati agar tidak terjebak dalam penolakan atau keputusasaan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Pertanyaan besarnya adalah “Apakah orang yang menolak realita berarti bukan islam” ?

Menolak realita tidak otomatis membuat seseorang keluar dari Islam. Identitas seorang Muslim ditentukan oleh iman (syahadat, keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya) serta komitmen terhadap ajaran Islam. Namun, sikap menolak realita bisa menunjukkan kelemahan iman atau akhlak, karena Islam mengajarkan untuk menerima kenyataan hidup dengan sabar, syukur, dan ikhtiar.

Penjelasan:

1. Islam adalah agama fitrah
Fitrah manusia adalah menerima kebenaran dan kenyataan. Menolak realita bisa berarti menolak fitrah, tapi bukan berarti langsung keluar dari Islam. Itu lebih kepada kondisi hati dan kesadaran.

2. Perbedaan antara iman dan sikap
* Iman: keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.
* Sikap: cara seseorang menghadapi kenyataan. Bisa benar (sabar, tawakal) atau salah (menolak, mengeluh berlebihan).

Menolak realita adalah sikap salah, tapi tidak otomatis menghapus iman.
3. Konsekuensi spiritual
Orang yang menolak realita bisa jatuh pada kufur nikmat (tidak bersyukur), atau bahkan su’uzhan (berburuk sangka kepada Allah). Ini berbahaya, tapi tetap berbeda dengan keluar dari Islam.

Contoh Qur’ani:
Kaum Nabi Yunus menolak realita azab, lalu ketika mereka sadar dan bertobat, Allah menerima taubat mereka (QS. Yunus: 98).
اِنَّ الَّذِيْنَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti mendapatkan ketentuan Tuhanmu (menjadi kufur atas pilihan sendiri) itu tidak akan beriman.

Artinya, penolakan realita bisa diperbaiki dengan kesadaran dan kembali kepada Allah.

Orang yang menolak realita tetap Muslim, selama ia tidak menolak pokok iman (Allah, Rasul, wahyu). Namun sikap itu menunjukkan kelemahan dalam menjalani ajaran Islam. Islam mengajak kita untuk meluruskan sikap: menerima realita sebagai takdir Allah, lalu berusaha memperbaikinya dengan ikhtiar dan doa.

 

Tinggalkan Balasan

Search