Kebaikan Bulan Ramadan adalah bulan mulia dengan seluruh keutamaan dan keistimewaan di dalamnya. Semua orang Islam di manapun berlomba-lomba untuk memperoleh keutamaannya dengan meningkatkan intensitas ibadah dibanding bulan-bulan lainnya. Sekalipun demikian, ada tiga orang atau golongan yang terhalang memperoleh semua itu.
مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Barangsiapa yang terhalangi mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi mendapatkannya.” (HR. Nasai, no. 2106).
Bahkan, orang yang seperti ini, didoakan oleh malaikat Jibril agar Allah menghinakannya, dan diaminkan oleh Rasulullah ﷺ :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَقِيَ الْمِنْبَرَ، فَقَالَ: ” آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ“، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ ! فَقَالَ: ” قَالَ لِي جِبْرِيلُ: أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ.ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ .ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, bahwa suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam naik mimbar dan beliau bersabda, “Amin, amin, amin.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu mengatakan seperti itu?” Beliau bersabda, “Jibril berkata kepadaku, “Semoga Allah menghinakan seorang hamba yang setelah memasuki Ramadan, Allah belum mengampuni dirinya.” Maka aku katakan, “Amin.” Kemudian Jibril berkata, “Terhinalah seorang hamba yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup atau salah satu dari keduanya akan tetapi tidak dapat membuatnya masuk surga.” Maka aku katakan, “amin.” Kemudian Jibriil berkata, “Terhinalah seorang hamba ketika namamu disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadamu.” Maka aku katakan, “Amin.”
(HR. Ibnu Khuzaimah, no. 1888, redaksi tersebut ada padanya, At-Tirmidzi, no. 3545, Ahmad, no. 7444, Ibnu Hibban, no. 908, shahih).
Berdasarkan hadis tersebut, tiga golongan yang terhalang kebaikan, ampunan, dan rahmat Allah di bulan Ramadan adalah:
- Menemui Ramadan namun tidak diampuni karena lalai dalam maksiat. Orang yang berpuasa secara fisik namun tidak menjaga hati dan anggota tubuhnya dari kemaksiatan. Mereka melewatkan kesempatan emas untuk memohon ampun hingga Ramadan berlalu begitu saja, sehingga tetap berada dalam kerugian.
- Tidak bersalawat saat nama Nabi Muhammad SAW disebut, Orang yang mendengar nama Nabi Muhammad SAW disebut namun tidak mengucapkan shalawat. Hal ini dikategorikan sebagai bentuk kelalaian serius.
- Menyia-nyiakan orang tua. Mereka merugi meski Ramadan penuh berkah. Orang yang masih memiliki kedua atau salah satu orang tua namun tidak berbakti atau menyia-nyiakan hak mereka. Hal ini menghalangi masuknya rahmat Allah.
Bagi orang yang seperti ini, tentu kedatangan Ramadan tidak membuatnya gembira, tidak ada antusias di dalam dirinya untuk menyambutnya. Hati yang hambar, bahkan mati rasa. Hari-hari Ramadan baginya biasa saja, tidak ada bedanya dengan hari-hari di bulan lain.
Bahkan terasa menjadi beban, harus menahan lapar dan haus seharian, berlama-lama dalam salat tarawih. Harus bangun untuk masak dan makan sahur, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pemenuhan konsumsi Ramadan, terlebih untuk menyiapkan Idhulfitri. Sehingga bukan kegembiraan yang dirasakan, justru keluh kesah dan kekesalan yang meliputi dirinya.
Bahkan tak segan dan begitu enteng baginya untuk meninggalkan kewajiban puasa Ramadan. Seakan kewajiban ini hanya pilihan saja, terserah bagi dia apakah mau puasa atau tidak. Tidak ada beban dan merasa bersalah dan hal ini -sangat disayangkan- dianggap lumrah di tengah masyarakat. Orang-orang di sekitar pun sudah menganggapnya hal biasa. Sudah sama-sama tahu dan sama-sama memaklumi.
Dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka dan dibelenggunya setan-setan, baginya tidak berlaku. Tidak terasa hawa surga yang mendorongnya untuk taat, justru tarikan neraka yang terasa kuat yang membuatnya tetap di dalam kedurhakaan. Tidak ada lagi penghalang dari setan-setan itu, karena sudah menyatu di dalam dirinya. (*)
