Beberapa waktu terakhir, kita mungkin akan cukup terkejut menyimak beberapa percakapan di media sosial maupun ruang-ruang diskusi daring di kalangan anak muda Indonesia. Ada sebagian dari mereka, generasi muda kita sendiri, yang mulai bersimpati pada Israel dan justru menyalahkan Palestina atas genosida yang hingga kini masih terjadi di bumi para nabi tersebut. Mereka mengatakan bahwa para pejuang kemerdekaan Palestina sebagai pemicu kekacauan dan peperangan.
Bahkan sempat pula kita melihat ada video yang menunjukkan beberapa remaja yang menjadikan ketakutan dan kekerasan yang menimpa anak-anak Palestina sebagai bahan candaan.
Fenomena ini tentu tidak lahir begitu saja tanpa adanya sebab. Bisa jadi ia adalah hasil dari kesalahan pendidikan, pemahaman sejarah yang kabur, serta lemahnya penanaman nilai-nilai tauhid dan keumatan sejak dini. Ini bukan semata-mata kesalahan individu, bukan semata-mata salah anak-anak tersebut, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif: orang tua, pendidik, dan masyarakat di sekitarnya. Di sinilah para orang tua seharusnya merasa terpanggil untuk mengambil peran.
Dalam Islam, peran orang tua, utamanya ibu tidak hanya sebagai pengasuh dan pendamping tumbuh kembang anak, tetapi juga sebagai pendidik utama dan pertama bagi mereka. Rasulullah SAW bersabda: Setiap bayi yang lahir berada di atas fitrahnya. Lalu orang tuanya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Al Bukhari)
Sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa membentuk karakter anak tidak bisa menunggu hingga mereka telah dewasa. Justru sejak saat mereka kecil, anak-anak harus diperkenalkan pada nilai-nilai dasar Islam, termasuk di dalamnya tauhid, cinta kepada sesama muslim, empati kepada yang tertindas dan kesadaran terhadap kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah Palestina.
Pendidikan tentang Palestina tidak bisa menunggu mereka dewasa. Ia harus mulai sejak dini, dari rumah, dari pangkuan seorang ibu. Bukan dalam bentuk propaganda atau sekedar doktrin kosong, tetapi sebagai proses membangun kesadaran bahwa sebagai muslim, kita terikat dalam satu tubuh, dan Palestina adalah bagian dari tubuh itu yang sekarang sedang terluka parah. Rasulullah SAW bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim, no. 2586)
Palestina: Bagian dari Identitas Muslim
Ketika orang tua mulai mengenalkan tentang Palestina kepada anaknya, ia tidak harus berbicara dalam narasi politik atau konflik semata. Tetapi lebih dari itu orang tua harus membingkainya dalam pendekatan tauhid dan keimanan. Bahwa Palestina khususnya maupun Bumi Syam pada umumnya adalah bumi para nabi yang diberkahi oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra/17: 1)
Kita bisa mengatakan pada anak-anak kita bahwa di Palestina terdapat Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah ke Masjidil Haram di Makkah. Di sana pernah lahir, hidup atau tinggal banyak nabi, di antaranya: Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Yaqub as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan nabi-nabi lainnya.
Kita bisa menceritakan bahwa Rasulullah SAW diperjalankan Allah SWT dalam peristiwa Isra dan Miraj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sebelum kemudian naik ke sidratul muntaha. Sehingga anak-anak dengan jelas mengetahui bahwa bumi Palestina bukan sekadar tempat biasa yang terdapat di peta dunia, melainkan bagian dari sejarah dan Islam itu sendiri.
Palestina dan Kemerdekaan Indonesia
Sebagai bangsa Indonesia, kita seharusnya tidak melupakan sejarah kita sendiri. Orang tua harus memberikan edukasi yang memadai pada anak-anaknya sejak kecil, bahwa dulu, Indonesia pernah berjuang merebut kemerdekaan dari penjajahan. Dan dukungan untuk meraih kemerdekaan, bangsa yang membantu para pejuang Indonesia salah satunya datang dari Palestina.
Pada masa perlawanan, Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, secara terbuka menyuarakan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia, bahkan menggalang dukungan dari negara-negara muslim Timur Tengah lainnya.
Ini sejalan dengan konstitusi Negara kita, khususnya pada Pembukaan UUD 1945, alinea pertama, yang mengatakan: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
