Maka sungguh tidak elok jika hari ini, ketika Palestina masih dijajah, ditindas dan dizalimi, kita bersikap diam dan pura-pura tidak tahu. Justru sebagai bangsa yang pernah merasakan pahitnya penjajahan, Indonesia mempunyai kewajiban moral dan kemanusiaan untuk membantu Palestina dalam bentuk apa pun. Anak-anak akan mudah menerima jika mereka diajak membantu Palestina di antaranya dengan: doa, donasi dan gerakan solidaritas.
Para orang tua utamanya ibu bahkan bisa menanamkan cita-cita mulia kepada anaknya, misalnya untuk menjadi dokter atau tenaga medis, atau bahkan menjadi saudagar kaya, agar bisa berkontribusi nyata bagi saudara-saudaranya di Palestina.
Palestina dan Pendidikan Karakter Islam
Penting untuk ditegaskan bahwa pendidikan tentang Palestina bukan bertujuan menumbuhkan kebencian kepada bangsa atau kelompok tertentu. Justru sebaliknya, sebagai orang tua kita ingin agar anak-anak belajar mencintai keadilan dan menolak segala bentuk kezaliman, siapa pun pelakunya. Karena Islam adalah agama rahmat, dan rahmat itu harus ditanamkan sejak dini.
Setiap orang tua memiliki cara berbeda dalam mendidik anak. Kita bisa memilih di antaranya dengan menggunakan cerita, atau video-video tentang Palestina, hingga infak yang dialokasikan untuk Palestina. Melalui kegiatan sederhana itu, orang tua dapat menyisipkan nilai: tauhid, bahwa semua perjuangan umat Islam berakar dari keyakinan kepada Allah SWT; empati, bahwa ada anak-anak seumurannya yang tidak bisa bermain karena hidup dalam penjajahan; dan tanggung jawab sosial, bahwa meskipun kita tinggal jauh, kita memiliki peran untuk mendoakan dan mendukung dengan cara yang sesuai kemampuan kita.
Kisah-kisah dan video-video tentang keteguhan anak-anak Palestina dalam mempertahankan identitas keislaman mereka, belajar, mengaji, bahkan menghafal kalam ilahi di bawah bayang-bayang dentuman bom, merupakan potret nyata dari kekuatan jiwa yang luar biasa. Di tengah keterbatasan dalam segala hal, mereka tetap menjalani hari-hari dengan semangat, kebersamaan, juga senyum keceriaan. Mereka bertahan dengan kondisi sandang, pangan dan papan yang sangat minim, namun tetap menjaga akhlak dan semangat belajar yang tinggi.
Keteguhan ini bukan sekadar kisah haru, tetapi pelajaran hidup yang sangat relevan untuk ditanamkan kepada anak-anak, generasi muda kita.
Dalam konteks pendidikan Islam, kisah anak-anak Palestina adalah media yang sangat kuat untuk mengajarkan nilai-nilai karakter luhur seperti kesabaran dalam ujian, kesyukuran atas nikmat sekecil apa pun, kekuatan mental dalam menghadapi ketidakpastian, serta keberanian membela kebenaran dan mempertahankan hak milik.
Pendidikan karakter semacam ini tidak cukup diajarkan lewat teori di kelas, tapi harus ditumbuhkan lewat contoh nyata dan kisah yang menyentuh hati. Palestina, dalam hal ini, menjadi cermin sekaligus pelajaran hidup bagi anak-anak kita agar tumbuh tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.
Palestina dan Kemanusiaan Universal
Sebagai orang tua kita juga harus menjelaskan kepada anak-anak kita bahwa kesedihan yang menimpa Palestina sejatinya bukan hanya kesedihan orang Islam, agama yang kita anut, tetapi luka kemanusiaan yang universal. Yang hancur di sana bukan hanya masjid, tapi juga gereja-gereja tua bersejarah yang selama ratusan tahun berdiri berdampingan dengan tempat ibadah umat Islam.
Bukan hanya sekolah-sekolah tahfizh yang runtuh, tetapi juga sekolah umum tempat anak-anak berbagai latar belakang agama menuntut ilmu. Bukan hanya rumah sakit milik organisasi Islam yang dibom, tetapi juga fasilitas kesehatan internasional bahkan milik PBB yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional.
Oleh sebab itu, solidaritas terhadap Palestina bukan semata didorong oleh sentimen keislaman, tetapi oleh panggilan kemanusiaan yang mendalam. Ketika anak-anak, perempuan, dan warga sipil tak bersalah menjadi korban kekerasan sistematis, maka siapa pun yang memiliki hati nurani, dari agama apa pun, bangsa mana pun, seharusnya merasa terpanggil.
Membela Palestina hari ini bukan hanya semata membela Al-Aqsha, tetapi juga membela nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar: hak hidup, hak aman, dan hak untuk bermartabat sebagai manusia. Ini harus ditanamkan kepada anak-anak kita sejak dini.
Ibu adalah madrasah pertama. Apa yang ditanamkan ibu hari ini akan menjadi nilai-nilai yang membentuk karakter generasi umat di masa depan. Maka mendidik anak dengan mengenalkan Palestina bukan sekadar aktivitas informatif semata, tetapi juga tindakan strategis untuk menjaga tauhid anak, kesatuan umat, menumbuhkan empati kepada sesama, dan memperkuat ikatan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah insaniyah yang tak berbatas oleh letak geografis.
Semoga dari tangan-tangan lembut para ibu, lahir generasi yang mencintai Bumi Syam, menangisi penderitaan saudaranya, dan suatu hari kelak, menjadi bagian dari para kafilah pembebas Al-Aqsha. (*)
