“Hajj teaches us equality, unity, and humility. There, all titles and status vanished, only the servants left the Rabb.”
(Haji mengajarkan kita kesetaraan, persatuan, dan kerendahan hati. Di sana, semua gelar dan status sirna, hanya tersisa hamba yang merindu Rabb-Nya)
Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang memiliki kedudukan istimewa dalam syariat. Ia merupakan puncak kerinduan setiap Muslim untuk menyempurnakan agamanya, sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya melibatkan fisik, namun juga hati dan jiwa.
Panggilan haji ke Baitullah, Ka’bah yang mulia di Makkah, adalah undangan langsung dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang mampu untuk datang dan menyaksikan kebesaran-Nya. Panggilan haji ke Baitullah secara gamblang disebutkan dalam firman-Nya:
وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini adalah inti dari panggilan ilahi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyerukan haji kepada umat manusia.
Seruan ini bersifat universal, mencakup seluruh umat manusia yang beriman, dan mengindikasikan bahwa mereka akan datang dari berbagai arah, menunjukkan besarnya antusiasme dan kerinduan untuk menunaikan ibadah ini.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadan. ” (HR Bukhari No. 8)
Hadis ini memperkuat kedudukan haji sebagai salah satu pilar utama dalam agama Islam, menunjukkan bahwa ia adalah kewajiban bagi yang mampu.
Panggilan haji ke Baitullah adalah bukti nyata keagungan Islam dan kekuatan iman yang mendorong jutaan Muslim untuk melakukan perjalanan spiritual yang luar biasa.
Ia adalah perjalanan menyucikan diri, refleksi atas kehidupan, dan penguatan ikatan dengan Sang Pencipta. Menunaikan haji berarti memenuhi undangan langsung dari Allah, sebuah kehormatan dan kenikmatan yang tak ternilai.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menjawab panggilan mulia ini dan menjadi tamu-tamu Allah di Baitullah.
Semoga bermanfaat. (*)
