Cinta adalah anugerah agung yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Namun, sering kali cinta itu terjebak dalam paradoks: antara pengakuan dan pengingkaran, antara lisan dan perbuatan. Paradok cinta ini nyata dalam kehidupan sehari-hari: mengaku cinta, tetapi perilaku tidak sejalan dengan pengakuannya. Banyak orang berkata mencintai seseorang, tetapi tidak peduli dengan kebutuhannya.
Begitu pula dalam hubungan manusia dengan Allah. Mengaku cinta kepada Allah, tetapi tidak menjalankan perintah-Nya.
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencint ai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Seorang muslim mengaku cinta Allah, tetapi shalat masih ditunda-tunda, bahkan ditinggalkan. Ia bersemangat menonton konser atau sepak bola hingga larut malam, tetapi malas bangun untuk shalat Subuh. Ini adalah paradoks cinta yang nyata.
Percaya adanya Allah tapi tidak menjalankan syariat-Nya. Mengakui keberadaan Allah adalah fitrah, bahkan orang musyrik Arab pun mengakuinya, sebagaimana diterangkan dalam Al Quran surah Luqman ayat 25: “Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.
Rasulullah bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Artinya: “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan yang tidak mengingat-Nya adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)
Seseorang yakin Allah Maha Melihat, tetapi masih berbuat curang dalam pekerjaan, mengambil yang bukan haknya, atau menipu dalam timbangan. Keyakinannya tidak berbuah pengamalan.
Cinta rasulullah tapi tidak mengikuti sunnahnya. Banyak muslim yang mengaku cinta Rasulullah, tetapi enggan mengikuti sunnah beliau. Rasulullah bersabda: “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka sungguh ia enggan.” (HR. Bukhari)
Orang berkata mencintai Nabi, tetapi enggan meneladani akhlaknya: jarang bersedekah, mudah marah, bahkan menebar kebencian di media sosial. Padahal Rasulullah adalah sosok paling lembut dan penuh kasih.
Mengharapkan syafaat rasulullah tapi tidak mengikuti petunjuknya. Setiap muslim berharap mendapatkan syafaat Rasulullah di hari kiamat. Namun syafaat itu hanya diberikan kepada orang yang benar-benar mengikuti beliau.
Rasulullah bersabda: “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” (HR. Bukhari)
Ada yang berharap mendapatkan syafaat Rasulullah, tetapi masih enggan membaca shalawat, masih meremehkan sunnah-sunnah beliau, bahkan tidak menjaga lisan dan perbuatan. Padahal jalan menuju syafaat adalah dengan meneladani petunjuk beliau.
Paradok cinta adalah penyakit hati yang berbahaya. Mengaku cinta Allah tapi tidak taat, mengaku cinta Rasulullah tapi tidak meneladani, mengaku ingin syafaat tapi tidak menempuh jalannya. Mari kita wujudkan cinta sejati dengan iman yang berbuah amal, agar Allah mencintai kita dan Rasulullah kelak memberikan syafaatnya.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Ali ‘Imran: 31, QS. Luqman: 25.
- Shahih al-Bukhari, no. 99, 6407, 7280.
- Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Dar Thayyibah.
