Usia dan keterbatasan geografis bukan penghalang untuk menuntut ilmu. Prinsip ini dibuktikan secara nyata oleh pasangan suami istri asal Halmahera Selatan, Idris Yakub dan Wahyuni Adam.
Pasutri pendidik ini berhasil menyelesaikan studi dan resmi diwisuda bersama di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA).
Idris dan Wahyuni tak sekadar lulus bersamaan, tetapi juga menempuh program studi yang sama, yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) melalui kelas daring. Kesempatan menempuh pendidikan tinggi ini mereka dapatkan melalui program Beasiswa Kualifikasi Guru Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan lewat jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Program beasiswa tersebut menyasar para guru pengabdi di Halmahera Selatan yang belum mengantongi kualifikasi sarjana. Setelah melewati tahap pendataan di sekolah-sekolah, Idris dan Wahyuni terpilih menjadi bagian dari penerima manfaat beasiswa untuk menempuh kuliah di UMSURA.
Namun, perjalanan meraih gelar sarjana tidaklah mudah. Tinggal di daerah pelosok dengan ketersediaan infrastruktur yang terbatas membuat keduanya harus menyiasati kendala sinyal internet dan pasokan listrik selama masa perkuliahan daring.
“Saat kuliah daring, kami harus berjalan kaki naik bukit sekitar 30 menit hanya untuk mendapatkan sinyal. Itu pun masih harus berhadapan dengan keterbatasan listrik di wilayah kami,” ungkap Idris saat ditemui usai prosesi wisuda, Ahad (1/11/2026).
Meski serba terbatas, semangat pasangan ini tak pernah surut. Dukungan serta pendampingan intensif dari para dosen UMSURA turut mempermudah proses belajar hingga mereka berhasil menyelesaikan tugas akhir skripsi.
Berlayar 7 Hari
Puncak perjuangan mereka ditutup dengan perjalanan menuju Surabaya. Untuk sampai ke lokasi wisuda, Wahyuni dan Idris bersama wisudawan asal Halmahera Selatan harus menempuh jalur laut menggunakan kapal selama sekitar tujuh hari demi menghemat biaya.
“Kami wisudawan kompak naik kapal laut selama tujuh hari agar lebih hemat. Rasa lelah langsung terbayar dan sangat haru begitu melihat langsung kampus UMSURA,” tutur Wahyuni.
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi karier keguruan Idris dan Wahyuni. Berbekal semangat belajar yang masih menyala, keduanya pun berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) di UMSURA jika kembali mendapat peluang beasiswa. Kisah pasutri ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan berkembang. (*/tim)
