Meskipun saat ini tengah diberlakukan gencatan senjata, rakyat Palestina hingga kini masih belum merasakan kesejahteraan yang sesungguhnya. Bantuan kemanusiaan belum tersalurkan secara merata, sementara banyak pengungsi yang belum dapat kembali ke tanah air mereka.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir, Fatih Fathurrahman Saputra, pada Rabu (29/10) dalam laporannya pada acara Diasporamu bertajuk “Mengawal Kemerdekaan Palestina” yang disiarkan oleh TVMU.
Fatih menjelaskan, pintu perbatasan Rafah—penghubung antara Mesir dan Palestina—memang telah dibuka untuk menyalurkan bantuan logistik. Namun, proses distribusi tersebut masih jauh dari maksimal karena tidak semua bentuk bantuan diizinkan masuk.
“Saat ini bantuan untuk dokter – tenaga medis per hari ini (29/10) masih belum mendapatkan izin masuk melalui perbatasan Rafah,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada perjanjian gencatan senjata, kendala kemanusiaan masih sangat besar. Banyak pengungsi Palestina di Mesir belum diizinkan kembali ke wilayah asal mereka, sementara situasi kemanusiaan di Gaza tetap memprihatinkan.
Fatih menilai, situasi ini menjadi sinyal bahwa perjalanan menuju kemerdekaan penuh bagi rakyat Palestina masih panjang. Ia menyebut bahwa meskipun ada kesepakatan penghentian konflik, proses pemulihan dan pemberian izin bantuan masih sering dipersulit oleh pihak Israel.
Oleh karena itu, ia menyerukan agar warga dunia tidak berpaling dari isu Palestina dan terus memberikan perhatian serta dukungan nyata.
“Saat ini bantuan untuk dokter – tenaga medis per hari ini (29/10) masih belum mendapatkan izin masuk melalui perbatasan Rafah,” katanya.
Muhammadiyah Terus Menyalurkan Bantuan melalui PCIM Mesir
Fatih menegaskan bahwa PCIM Mesir bersama PP Muhammadiyah terus berkomitmen menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina, baik yang berada di wilayah konflik maupun di kamp-kamp pengungsian di Mesir.
Ia menambahkan, komunikasi antara PCIM Mesir dan PP Muhammadiyah berjalan intens untuk memastikan bantuan dari Indonesia tersampaikan tepat sasaran.
Selain itu, PCIM Mesir juga tengah menyiapkan sejumlah agenda internal, termasuk perayaan Milad ke-26 PCIM Mesir dan Milad ke-113 Muhammadiyah yang akan diselenggarakan pada November mendatang.
“Ketika acara milad tersebut dilaksanakan, kami akan mengundang warga Palestina yang ada di Mesir untuk hadir. Sekaligus menyerahkan kembali bantuan ke mereka pada November,” katanya.
Fatih menegaskan bahwa perayaan milad bukan sekadar kegiatan seremonial. Momen tersebut juga dijadikan ajang solidaritas dan kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang kini masih berada di kamp-kamp pengungsian di Mesir.
Melalui kegiatan ini, PCIM Mesir ingin menunjukkan bahwa semangat milad Muhammadiyah tidak hanya memperingati usia organisasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat peran nyata Muhammadiyah dalam membela kemanusiaan dan menegakkan keadilan global. (*/tim)
