Kita tentu tidak asing dengan sosok wanita mulia yang namanya diabadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Qur’an, yaitu Maryam ‘Alaihassalām, ibunda dari Nabi Isa ‘Alaihissalām.
Maryam adalah putri dari Imran, seorang hamba yang saleh. Nasabnya tersambung kepada Nabi Sulaiman bin Daud ‘Alaihimas-salām. Ia tumbuh dalam keluarga yang taat beribadah, penuh ketulusan dan keimanan. Karena kesalehan dan keteguhan imannya, Maryam terpilih menjadi salah satu dari empat wanita pemuka ahli surga sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fāṭimah binti Rasulullah ﷺ, Khadījah binti Khuwaylid, dan Āsiyah (istri Firaun).” (HR. Al-Hākim, no. 4853)
Maryam tumbuh menjadi seorang gadis yang menjaga iffah (kehormatan) dan kesucian dirinya. Sejak kecil, ibunya telah menadzarkannya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis, dan Maryam hidup di bawah pemeliharaan Nabi Zakariya ‘Alaihissalām, suami bibinya. Hidupnya penuh dengan karamah dan keberkahan.
Demi menjaga kehormatannya, Maryam mengasingkan diri dari manusia ke sebuah tempat di sebelah timur Baitul Maqdis, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:
إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
“Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.” (QS. Maryam: 16)
Suatu ketika, Malaikat Jibrīl ‘Alaihissalām datang kepadanya dalam rupa seorang laki-laki yang sempurna. Ia mengabarkan kepada Maryam bahwa dirinya akan mengandung seorang anak laki-laki yang suci. Maryam heran dan berkata, bagaimana mungkin ia dapat mengandung padahal belum bersuami? Maka malaikat menjawab bahwa hal itu terjadi atas izin Allah Ta‘ālā, dan terjadilah kehamilan tersebut sebagaimana firman-Nya:
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.”
(QS. Maryam: 22)
Ketika masa kehamilannya berjalan, Maryam menghadapi cobaan yang amat berat. Ia dilanda kebingungan dan kesedihan, membayangkan bagaimana reaksi kaumnya saat mengetahui dirinya hamil tanpa suami. Fitnah dan tuduhan keji pun membayangi pikirannya.
Ketika tiba waktunya melahirkan, rasa sakit luar biasa membuatnya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam kesedihan yang mendalam, ia mengeluh:
فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
“Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Ia berkata, ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti lagi dilupakan.’” (QS. Maryam: 23)
Namun Allah yang Maha Penyayang menghiburnya. Ia diilhamkan untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar jatuh buah kurma yang segar untuk dikonsumsi, dan Allah mengalirkan air jernih di bawahnya agar Maryam dapat minum dan memulihkan diri setelah melahirkan.
Dengan keteguhan hati, Maryam kembali kepada kaumnya sambil membawa bayi mungilnya. Tetapi kaumnya menuduhnya dengan tuduhan keji, sebagaimana firman Allah:
فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا (٢٧) يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا (٢٨)
“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya sambil menggendongnya. Mereka berkata, ‘Wahai Maryam, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar! Wahai saudari Harun! Ayahmu bukanlah orang jahat, dan ibumu bukanlah seorang pezina!’”
(QS. Maryam: 27–28)
Maryam tetap diam dan hanya mengisyaratkan agar mereka bertanya kepada bayinya. Maka terjadilah mukjizat besar:
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (٢٩)
“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’”
Lalu bayi itu Nabi Isa ‘Alaihissalām berbicara dengan izin Allah:
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (٣٠)
“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikanku seorang nabi.’”
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (٣١)
“Dan Dia menjadikanku orang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkanku salat dan zakat selama aku hidup.”
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (٣٢)
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka.”
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (٣٣)
“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
(QS. Maryam: 29–33)
Demikianlah Allah menampakkan pembelaan langsung terhadap kesucian Maryam, melalui mukjizat yang luar biasa.
Dari kisah tersebut, kita bisa mengambil hikmah yang luar biasa diantaranya adalah :
Alaihassalām:
- Isa bin Maryam bukan anak Tuhan, melainkan seorang nabi dan hamba Allah yang diciptakan melalui ruh yang ditiupkan atas izin-Nya. Ini menjadi bantahan terhadap keyakinan trinitas yang keliru dalam keyakinan Nasrani. Begitupula kelahirannya bukanlah di musim dingin atau salju, melainkan di saat pohon kurma telah berbuah yaitu di musim panas.
- Keteguhan hati dalam menghadapi fitnah dan ujian. Maryam tetap sabar, tidak membalas tuduhan, dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Dari sini kita belajar bahwa fitnah, cacian, dan gunjingan akan menjadi sumber pahala bagi orang yang terdzalimi.
- Keyakinan terhadap kekuasaan Allah. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Sebagaimana Maryam mengandung tanpa suami, begitu pula pertolongan Allah bisa datang di luar nalar manusia, terutama bagi hamba yang senantisa bertakwa dan bersabar.
Semoga kisah agung ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar meneladani kesucian, keteguhan iman, dan kesabaran Maryam ‘Alaihassalām, salah satu dari empat pemimpin wanita ahli surga.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (*)
