Pemuda Era Digital: Banyak Energi, Sedikit yang Berguna

Pemuda Era Digital: Banyak Energi, Sedikit yang Berguna
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fatah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

#Refleksi Hadis Nabi ‘100 Unta, Hanya Satu Yang Bisa Digunakan’

Pemuda selalu menjadi pilar utama dalam perjalanan peradaban. Di masa mudalah potensi manusia berada pada puncaknya, dengan energi, kecerdasan, dan kreativitas yang meluap-luap. Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan sebuah perumpamaan yang sarat makna:

إِنَّمَا النَّاسُ كَالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً

Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir engkau tidak mendapatkan seekor pun yang layak dijadikan tunggangan.” (HR. al-Bukhari no. 6498, Muslim no. 2547)

Para ulama menafsirkan, di antara banyak orang hanya sedikit yang benar-benar siap mengemban amanah, memiliki keteguhan iman, akhlak, dan kecakapan untuk menjadi teladan. Analogi ini sangat relevan bila kita kaitkan dengan kondisi pemuda hari ini: dari sekian banyak yang penuh semangat, hanya sedikit yang benar-benar bermanfaat bagi umat.

Nasihat Ulama Salaf dan Khalaf

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menekankan bahwa pemuda ibarat lahan subur yang siap ditanami. Jika ditanam kebaikan, maka akan tumbuh amal saleh; jika dibiarkan, akan tumbuh keburukan. Beliau berkata:

قَلْبُ الصَّبِيِّ كالأرض الخالية، ما أُلْقِيَ فيها من شيء قَبِلَتْهُ

Hati seorang anak itu bagaikan tanah kosong; apa saja yang ditanamkan padanya akan ia terima.”

(Ihya’, Juz 3, hlm. 78)

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Bada’i al-Fawa’id juga menegaskan:

الشباب الطائش كالجبال من الرمال، قليل منهم ما يستفاد

Pemuda yang lalai laksana gunung pasir, hanya sedikit sekali yang dapat dimanfaatkan darinya.”

(2:816)

Sedangkan ulama khalaf, seperti Sayyid Qutb, dalam Fi Zilal al-Qur’an menekankan bahwa generasi muda adalah ujung tombak kebangkitan. Beliau mengingatkan:

“Jika pemuda tidak diarahkan dengan iman dan amal, maka potensi besar mereka akan terbuang sia-sia.”

Potret Pemuda di Era Digital

Di zaman digital, analogi Nabi ﷺ seakan hidup kembali. Kita melihat lautan pemuda yang aktif, cerdas, kreatif, dan penuh energi. Namun sayangnya, banyak yang tenggelam dalam arus hiburan, game tanpa batas, media sosial, dan gaya hidup konsumtif. Energi besar itu sering habis untuk hal-hal remeh, sementara sedikit yang benar-benar diarahkan untuk dakwah, ilmu, dan pengabdian.

Imam al-Nawawi dalam Al-Adzkar memberi nasihat singkat namun dalam:

خيرُ الشَّبابِ من تعلَّمَ وعملَ

Pemuda terbaik adalah yang belajar dan mengamalkan ilmunya.”

Kalimat ini menjadi kunci: ilmu harus diamalkan, bukan hanya dipelajari. Era digital menyediakan akses ilmu tanpa batas, tapi tanpa pengamalan, pemuda hanya akan menjadi penonton, bukan penggerak perubahan.

Jalan Keluar: Membina Pemuda

Agar potensi besar pemuda tidak terbuang sia-sia, perlu langkah nyata yang diwariskan ulama:

  1. Pendidikan Dini dan Berkelanjutan – membentuk akidah, akhlak, dan visi hidup sejak awal.
  2. Mentoring dan Teladan – pemuda butuh sosok nyata untuk diteladani, sebagaimana sahabat belajar langsung dari Nabi ﷺ.
  3. Penyaluran Energi Positif – melalui ilmu, olahraga, seni bermanfaat, dan aktivitas sosial.
  4. Penguatan Spiritual – menjaga ibadah, dzikir, dan kedekatan dengan Al-Qur’an agar energi diarahkan ke jalan lurus.

Dengan cara inilah, dari seratus unta yang tampak tak berguna, bisa lahir satu tunggangan kokoh yang membawa umat menuju kebaikan.

Hadis Rasulullah ﷺ tentang seratus unta hanya satu yang layak menjadi tunggangan adalah peringatan sekaligus motivasi. Jangan sampai kita termasuk dalam “unta-unta yang tak berguna”. Jadilah bagian dari “satu kendaraan” yang benar-benar mampu mengubah keadaan.

Pemuda era digital memiliki energi luar biasa, tetapi tantangan mereka juga jauh lebih berat. Hanya dengan bimbingan ilmu, iman, dan akhlak, energi itu bisa diubah menjadi kekuatan yang berguna bagi agama dan umat.

Referensi

  1. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6498
  2. Muslim, Shahih Muslim, no. 2547
  3. Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz 3, hlm. 78
  4. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Bada’i al-Fawa’id, 2:816
  5. Al-Nawawi, Al-Adzkar, hlm. 32
  6. Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Qur’an, Juz 3, hlm. 56

Tinggalkan Balasan

Search