Tanggal 28 Oktober selalu datang membawa ritual tahunan yang khidmat. Kita kembali melantunkan ikrar suci Sumpah Pemuda dengan penuh semangat berapi-api di lapangan, kantor, atau linimasa media sosial.
Kalimat “bertumpah darah satu, berbangsa satu, menjunjung bahasa persatuan” berkumandang merdu seolah menyihir kita bahwa nasionalisme masih hidup dan bernapas di dada setiap anak muda.
Namun, mari kita tengok sejenak ke luar jendela. Di balik mikrofon tempat para pejabat berpidato tentang “generasi penerus bangsa”, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik: pemuda-pemuda yang lebih sibuk menatap layar ponsel, bukan untuk merumuskan inovasi, melainkan menunggu kabar apakah nama mereka lolos dalam daftar “titipan” paman tercinta. Ah, indah sekali romantisme kemerdekaan ini jika disandingkan dengan mentalitas nepotisme terselubung.
Padahal, jika kita membuka lembar sejarah, Republik ini tidak pernah dibangun oleh kumpulan “anak mama” yang merengek minta fasilitas kepada orang tua. Bung Karno pernah berujar dengan begitu lantang, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Beliau tidak pernah bilang, “Beri aku 10 anak manja yang jago nebeng nama besar ayahnya, niscaya akan kubuatkan posisi empuk di pemerintahan.”
Soekarno muda berjuang bukan dengan mendompleng silsilah keluarga, melainkan dengan gagasan, pena, dan keberanian membakar mimbar kolonialisme.
Begitu pula dengan Bung Hatta. Sang Proklamator pernah merumuskan kalimat emas yang menampar kesadaran kita: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”
Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini, di mana banyak pemuda berlomba-lomba memoles CV agar terlihat brilian, alumnus sekolah luar negeri meski tanpa ijazah, tetapi begitu ada ujian kejujuran, prinsip langsung dilego demi kursi kenyamanan.
Hatta tidak pernah membawa-bawa pengaruh keluarganya untuk merumuskan fondasi ekonomi kerakyatan. Ia berdiri di atas keringat pikiran dan integritasnya sendiri. Hingga saat ini dia dikenal sebagai Bapak Koperasi.
Sebuah pepatah klasik dengan sangat telak menyindir fenomena generasi instan: “Sesungguhnya pemuda adalah orang yang berkata ‘Inilah aku’, bukan seseorang yang berkata ‘Inilah ayahku’.” Kalimat ini seperti alarm keras bagi mereka yang hobi berlindung di balik ketiak keluarga.
Di era modern ini, kemandirian pemuda adalah harga mati. Menjadi tiang tegaknya sebuah bangsa menuntut kecerdasan, ketajaman berpikir, serta kepekaan dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar, bukan sekadar keahlian memanfaatkan relasi orang tua untuk melompati antrean meritokrasi.
Bayangkan, betapa ironisnya ketika semangat kepeloporan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangi,” justru diterjemahkan oleh sebagian pemuda masa kini sebagai: “Karier yang tidak disponsori orang dalam tidak akan pernah jaya.”
Mentalitas penakut seperti ini yang membuat bangsa besar kadang terasa berjalan di tempat. Kita ingin melompat jauh ke panggung global, tetapi kaki masih terikat erat pada tali pusar koneksi keluarga.
Oleh karena itu, peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar ajang nostalgia sejarah atau pamer baju adat di kantor atau di sekolah. Ini adalah momentum refleksi total. Pemuda masa kini harus berani berdikari secara mental dan intelektual. Berjuanglah dengan diplomasi yang cerdas, tekad bulat yang tidak mudah lonjong, kejujuran yang otentik, dan tentu saja, tanpa perlu berbohong sana-sini hanya untuk terlihat keren di depan publik.
Sudah saatnya kita menolak dengan tegas label “anak papa” atau “ponakan paman” yang merusak nalar sehat bangsa. Bangsa ini berdiri karena keringat pemuda terpelajar yang merdeka secara berpikir, bukan karena jaminan fasilitas kekerabatan.
Mari buktikan bahwa hari ini kita adalah pemuda yang siap berkata, “Inilah aku dengan segala keringat dan karyaku,” bukan sekadar mendompleng nama besar warisan orang tua. Sebab dunia tidak butuh pewaris tahta yang manja; dunia butuh pemuda pencipta sejarah. (*)
