Imam Syafi’i tidak pernah berbicara soal IPK, tapi soal akhlak. Katanya, ilmu tanpa adab ibarat pedang tanpa gagang bisa membunuh pemiliknya. Sekarang? Anak hafal hadits tapi tega menipu teman.
Anak lulusan madrasah / sekolah tapi tak tahu cara berbicara pada orang tua. Ini bukan pendidikan, ini pabrik kecerdasan tanpa nurani.
Ibnu Qoyyim bilang: pendidkan itu tarbiyah qolb (pendidikan hati). Bukan hanya otak. Tapi lihat sekolah kita hari ini; guru dipermalukan, murid dilayani seperti raja. Hati tak pernah disentuh, hanya nilai yang dibesarkan. Hasilnya? Generasi yang tahalul tapi tak tahu malu, salat lima waktu tapi chatnya penuh dusta.
Al-Jarnuji menulis: niat adalah kunci ilmu. Kalau niatnya dunia, maka ilmunya akan bunuh dirinya. Tapi sekarang orang tua, berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah unggulan demi gengsi, bukan keridaan Allah.
Anak dipaksa hafal Al-Qur’an demi sertifikat, bukan karena cinta. Ini bukan pendidikan, ini investasi ego.
Ibnu Tufail membuktikan: anak yang hidup sendirian bisa menemukan Tuhan tanpa guru. Tapi kita? Terlalu sibuk mengisi pikiran anak, tapi lupa memberi ruang untuk bertanya.
Kita takut anak berpikir, karena kita sendiri takut pada pertanyaan yang tak bisa kita jawab. Akhirnya kita ciptakan mesin penurut, bukan manusia berakal.
Jadi jangan heran kalau lulusan sekolah islam jadi pejabat tapi korupsi, jadi pengusaha tapi menipu, jadi ustadz tapi memperalat agama. Karena kita salah mendidik dari awal: mendidik otak bukan mendidik hati.
Ada dua arus besar dalam filsafat pendidikan yang bisa kita refleksikan:
1. Pendidikan sebagai alat membuat anak “pintar”
* Fokus pada kognitif: kemampuan membaca, berhitung, menguasai sains, teknologi, bahasa.
* Orientasi pada kompetisi akademik: nilai, ranking, prestasi.
* Anak dipandang sebagai “wadah” yang harus diisi pengetahuan.
* Risiko: anak bisa cerdas secara intelektual, tetapi kurang matang secara emosional, sosial, atau spiritual.
2. Pendidikan sebagai proses menjadikan anak “manusia”
* Fokus pada fitrah: mengembangkan potensi bawaan, karakter, akhlak, empati, dan tanggung jawab.
* Orientasi pada kehidupan nyata: bagaimana anak berinteraksi, memberi manfaat, dan menjadi bagian dari masyarakat.
* Anak dipandang sebagai “amanah” yang harus dibimbing agar tumbuh sesuai kodratnya.
* Hasilnya: anak bukan hanya tahu banyak hal, tetapi juga bijak, beradab, dan berguna.
Sintesis
Sebenarnya, pendidikan ideal bukan memilih salah satu, melainkan mengintegrasikan keduanya:
* Ilmu memberi anak kecerdasan untuk memahami dunia.
* Nilai dan akhlak memberi anak arah agar tidak tersesat oleh kecerdasannya.
* Seperti benih: ilmu adalah pupuk, akhlak adalah tanah subur. Tanpa keduanya, tumbuhnya tidak akan kokoh.
Aku jadi teringat pada prinsip yang sering kamu tekankan: “Manusia diciptakan bukan untuk sempurna, tapi untuk berguna.” Pendidikan sejati mestinya melahirkan anak yang berguna bagi sesama, bukan sekadar pintar untuk dirinya sendiri.
Jawaban singkat: Al-Qur’an menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar membuat anak pintar secara intelektual, tetapi membentuk mereka menjadi manusia beriman, berakhlak, dan berguna. Ayat-ayat seperti QS. Al-‘Alaq: 1–5 (tentang membaca dan ilmu) dan QS. Luqman: 13–19 (tentang nasihat orang tua, akhlak, dan karakter) menunjukkan keseimbangan antara kecerdasan dan kemanusiaan.
Ayat tentang Pendidikan yang Membuat Anak “Pintar”
1. QS. Al-Alaq: 1-5
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia,
Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, membaca, dan belajar sebagai fondasi kecerdasan.
2. QS. Al-Mujadilah: 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Pendidikan membuat anak berilmu dan memiliki kedudukan mulia
Ayat tentang Pendidikan yang Membuat Anak “Menjadi Manusia”
1. QS. Luqman: 13-19
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ
Luqman menasihati anaknya tentang:
* Tauhid: jangan mempersekutukan Allah.
* Syukur kepada orang tua.
* Shalat, amar ma’ruf nahi munkar, sabar.
* Akhlak sosial: jangan sombong, rendahkan suara, berjalan dengan sederhana.
Pendidikan di sini bukan hanya ilmu, tetapi pembentukan karakter, akhlak, dan kemanusiaan.
2. QS. An-Nahl: 78
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.
Pendidikan adalah proses menghidupkan potensi fitrah agar anak menjadi manusia yang bersyukur.
Sintesis Qur’ani
* Ilmu (pintar): Al-‘Alaq, Al-Mujadilah.
* Akhlak & kemanusiaan: Luqman, An-Nahl.
* Pendidikan sejati dalam Al-Qur’an adalah integrasi ilmu dan akhlak. Anak bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab, beriman, dan berguna.
