Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, Dr. Sholihin Fanani, MPSDM menekankan pentingnya pendidikan Muhammadiyah yang mengacu pada sistem pendidikan Rasulullah SAW sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi unggul dan berkarakter Islami.
Hal tersebut disampaikannya dalam kultum sebelum rapat koordinasi Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Kamis (12/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembinaan spiritual dan moral peserta didik.
“Tilawah adalah membaca, mencerdaskan luar dalam. Takziah mencucikan jiwa. Guru yang baik adalah guru yang menjadi endapan. Harus disyukuri dan bersyukur,” kata Sholihin Fanani yang juga Wakil Ketua PWM Jawa Timur itu.
Ia menjelaskan bahwa konsep tilawah bukan sekadar membaca teks, melainkan proses internalisasi ilmu yang mampu mencerdaskan akal dan membersihkan hati. Sementara takziah dimaknai sebagai upaya penyucian jiwa yang harus menjadi bagian dari proses pendidikan. Menurutnya, guru yang menjadi “endapan” adalah sosok pendidik yang mampu memberi keteladanan, meninggalkan nilai, serta menghadirkan dampak jangka panjang dalam kehidupan peserta didik.
Sholihin Fanani juga mengatakan pentingnya Taklim Al-Hikmah, yaitu orang yang pandai dalam pembelajaran.
Menurutnya, Taklim Al-Hikmah merupakan proses pembelajaran yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan kebijaksanaan. Pendidik Muhammadiyah dituntut untuk mampu menyampaikan ilmu dengan pendekatan yang hikmah, bijaksana, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar Islam.
“KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, maka jadilah pendidik yang sadar diri,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa semangat pembaruan pendidikan yang dicontohkan oleh Ahmad Dahlan harus terus dihidupkan. Kesadaran diri sebagai pendidik, lanjutnya, berarti memahami peran strategis guru sebagai agen perubahan, pembimbing umat, sekaligus penjaga nilai-nilai tauhid dalam setiap proses pembelajaran.
Dalam hal pendidikan Muhammadiyah, Sholihin Fanani menekankan pentingnya TAUHID yang kuat. “TAUHID dalam pendidikan Muhammadiyah harus kuat, untuk menyelamatkan agama para siswa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tauhid bukan hanya materi pelajaran, melainkan ruh dalam seluruh aktivitas pendidikan. Setiap kurikulum, metode pembelajaran, hingga budaya sekolah harus mencerminkan penguatan keimanan kepada Allah SWT. Dengan tauhid yang kokoh, peserta didik diharapkan memiliki keteguhan iman, integritas moral, dan ketahanan menghadapi tantangan zaman.
Sholihin Fanani berharap, pendidikan Muhammadiyah dapat menjadi contoh bagi pendidikan lainnya, dengan mengacu pada nilai-nilai Islam dan ke-Muhammadiyahan. Ia juga mengajak seluruh unsur Majelis Dikdasmen dan PNF untuk terus berinovasi, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah.
“Mari kita jadikan pendidikan Muhammadiyah sebagai wadah untuk mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” tutupnya.
Menurutnya, cita-cita tersebut hanya dapat terwujud melalui sinergi antara guru, pimpinan sekolah, orang tua, dan persyarikatan. Dengan komitmen bersama, pendidikan Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial, sehingga siap berkontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan secara luas. (*/tim)
