Pengajian Bulanan Muhammadiyah–‘Aisyiyah Kukar Teguhkan Akhlak Sosial di Era Digital

Pengajian Bulanan Muhammadiyah–‘Aisyiyah Kukar Teguhkan Akhlak Sosial di Era Digital
www.majelistabligh.id -

Pengajian Bulanan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Kabupaten Kutai Kartanegara kembali digelar pada Ahad (1/2/ 2026), bertempat di Masjid Baitul Ilmi, Kompleks SMK Muhammadiyah Muara Badak Kecamatan Muara Badak. Kegiatan rutin yang telah berjalan belasan tahun ini menjadi salah satu agenda penting Persyarikatan Muhammadiyah di tingkat daerah dalam menjaga kesinambungan dakwah dan pembinaan umat.

Pengajian kali ini menghadirkan Ustaz Ir. Masumi, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur, sebagai penceramah utama. Acara dihadiri oleh jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kutai Kartanegara, pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah serta ‘Aisyiyah se-Kukar, unsur organisasi otonom, pengelola Amal Usaha Muhammadiyah, hingga perwakilan PWM dan PWA Kalimantan Timur.

Ustadz H. Yamin Hadi, selaku Ketua PDM Kutai Kartanegara dalam sambutannya menegaskan bahwa pengajian bulanan bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan ruang konsolidasi ideologis dan spiritual warga Muhammadiyah. “Pengajian ini menjadi wahana penguatan nilai Islam berkemajuan sekaligus mempererat ukhuwah antar pimpinan dan jamaah,” ujarnya.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Masumi menyoroti fenomena kehidupan sosial masyarakat modern yang dinilai semakin bising oleh komentar dan penilaian, khususnya di ruang digital. Menurutnya, kebebasan berekspresi yang tidak dibarengi dengan akhlak justru melahirkan luka sosial.

“Di media sosial, jari seolah berkuasa, tetapi sering kali lupa menjaga perasaan dan kehormatan orang lain,” ungkapnya.

Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan hikmah klasik tentang etika bermuamalah, yakni perlakukan manusia dengan tiga hal: jika tidak mampu memberi manfaat maka jangan menyakiti, jika tidak mampu membahagiakan maka jangan membuat sedih, dan jika tidak mampu memuji maka jangan mencela. Ungkapan ini, menurutnya, sangat relevan untuk menjadi pegangan hidup umat Islam hari ini.

Lebih lanjut, Masumi menegaskan bahwa Islam tidak menuntut setiap orang menjadi pahlawan bagi sesama, tetapi setidaknya tidak menjadi sumber penderitaan.

“Standar minimal akhlak itu sederhana, jangan menyakiti,” katanya. Ia menilai banyak luka batin di masyarakat lahir bukan dari perbuatan besar, melainkan dari ucapan kecil yang kehilangan empati.

Pengajian juga mengingatkan bahaya budaya mencela yang tumbuh subur di era digital. Kritik yang kehilangan adab, ujar Masumi, sering berubah menjadi hujatan dan penghakiman. Ia mengutip nasihat Imam Syafi’i tentang keselamatan seseorang yang terletak pada kemampuannya menjaga lisan.

Menutup ceramahnya, Masumi mengajak seluruh jamaah menjadikan akhlak sebagai ukuran utama keberagamaan. “Islam tidak mengajarkan kita unggul dalam perdebatan, tetapi unggul dalam akhlak,” tegasnya.

Pengajian bulanan ini ditutup dengan doa dan foto bersama, menandai komitmen Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Kutai Kartanegara untuk terus menghadirkan dakwah yang menyejukkan, membangun, dan relevan dengan tantangan zaman.(ay.1)

 

Tinggalkan Balasan

Search