Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta menggelar aksi bagi takjil mahasiswa sekaligus mimbar bebas di Tugu Kartasura, Sukoharjo, pada Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai tengah mengalami kemunduran.
Meskipun aparat kepolisian memberikan pengawalan ketat di sekitar Tugu Kartasura, massa aksi tetap tenang. Mereka memadukan orasi politik dengan pembagian takjil kepada pengguna jalan yang melintas. Strategi ini menjadi simbol bahwa kritik terhadap kekuasaan dapat berjalan selaras dengan kerja kemanusiaan.
“Aksi ini sebagai bentuk keresahan kami sebagai mahasiswa atas berbagai kondisi yang timpang di negeri ini. Kami menyampaikan aksi secara damai sebagai refleksi dan juga menggelar aksi berbagi di tengah kawalan dari pihak aparat,” ujar Vito Zahria, Kabid HPKP PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta.
Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali marwah demokrasi Indonesia di ruang publik. Melalui mimbar bebas, para aktivis mahasiswa menyoroti berbagai isu strategis nasional. Mereka mendesak adanya reformasi institusi demi memulihkan kepercayaan masyarakat yang kian tergerus.
Siti Rahma Laila Q, Ketua Umum PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta, menegaskan pentingnya menjaga ruang dialog. “Aksi ini membuka pikiran tentang aksi yang di mana tidak harus mengarah kepada kericuhan. Namun, aksi yang dilakukan bisa berupa mimbar bebas di mana seluruh elemen masyarakat bebas menyampaikan hak dan pendapatnya di publik,” tuturnya.
Aksi Bagi Takjil Mahasiswa dan Kritik Konstruktif
Selain orasi, aksi bagi takjil mahasiswa ini menjadi jembatan komunikasi dengan warga lokal. Mahasiswa membawa empat poin tuntutan besar, mulai dari reformasi internal kepolisian hingga evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menuntut transparansi penuh dalam setiap kebijakan publik yang diambil pemerintah.
Selanjutnya, massa menekankan bahwa pengawalan polisi seharusnya tidak membatasi substansi kritik. Kehadiran aparat diharapkan tetap menjamin keamanan tanpa menciptakan rasa takut bagi warga yang ingin bersuara. Oleh karena itu, konsistensi dalam mengawal isu-isu kerakyatan akan terus berlanjut pasca aksi di Kartasura ini.
Penyampaian aspirasi berakhir dengan tertib menjelang waktu berbuka puasa. Seluruh peserta aksi membubarkan diri secara teratur setelah memastikan pesan-pesan evaluasi tersampaikan dengan jelas kepada publik maupun pihak berwenang. (andifa nurasyam zuhdi)
