Penyakit yang Mengintai Muslimah di Balik Kegiatan yang Padat

Penyakit yang Mengintai Muslimah di Balik Kegiatan yang Padat
*) Oleh : Ima Luthfiningrum
Anggota MTK Pimpinan Daerah Aisyiyah Sidoarjo & Pengajar Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Pernahkah kita merasa hari-hari berlalu begitu cepat? Dari fajar menyapa hingga malam menutup mata, daftar tugas seolah tak pernah usai. Antara urusan rumah tangga, pekerjaan, pendidikan, hingga peran sosial, kita sering terjebak dalam kondisi “aktivitas padat merayap.”

Namun, di tengah kepenatan itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, kemana sebenarnya kaki ini melangkah?. Jangan sampai kesibukan kita hanyalah gerak tanpa makna, karena ada ancaman nyata yang mengintai hati ketika orientasi hidup mulai bergeser.

Mengingat Kembali Orientasi Penciptaan
Seringkali kelelahan yang luar biasa muncul karena kita kehilangan “kompas” spiritual. Al-Qur’an mengingatkan kita dengan tegas mengenai alasan eksistensi kita di bumi. Dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

QS. Al-Mu’minun: 115 pun menantang kesadaran kita:
اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Tapi anehnya, waktu yang terbilang sehari semalam 24 jam seringkali tak pernah cukup untuk menyelesaikan planning yang telah tersusun. Kerja lembur sering dilakukan demi memenuhi deadline. Kita seakan berlomba dengan waktu, namun sering kali merasa kalah dan tertinggal. Di sinilah kita perlu mengevaluasi, apakah kesibukan ini mendekatkan kita kepada-Nya atau justru menjauhkan?

Empat Penyakit Akibat Dominasi Dunia

Hati-hatilah jika pagi hari kita sudah dibuka dengan kecemasan akan dunia—takut kurang harta, takut tertinggal tren, atau takut tidak dihargai manusia. Rasulullah SAW memperingatkan tentang empat “penyakit” bagi mereka yang bangun hanya dengan dunia di pikirannya, seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya:

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya: Pikiran yang selalu bercabang dan tidak pernah merasakan ketenangan batin.
2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya: Terus bekerja keras, namun tidak tahu apa hakikat yang ingin dicapai secara ukhrawi.
3. Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi: Mentalitas yang selalu merasa kurang meski nikmat sudah melimpah di tangan.
4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya: Terjebak dalam angan-angan kosong yang menguras energi tanpa realisasi amal saleh. (HR. Muslim)

Bahaya Penyakit Iri dan Perbandingan
Di sela-sela kepadatan aktivitas, tak jarang mata kita melirik pada kehidupan orang lain. Kita sering membanding-bandingkan keadaan diri sendiri dengan mereka. Pepatah mengatakan, “Rumput tetangga sering nampak lebih hijau dari pekarangan sendiri.”

Parahnya, jika hal ini dibiarkan, hati akan diliputi rasa iri yang menghanguskan pahala. Padahal, Allah telah membagi porsi ujian dan nikmat dengan sangat adil. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 216, Allah berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Apa yang kita benci bisa jadi baik bagi kita, dan apa yang kita sukai bisa jadi buruk bagi kita. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak.

Mari sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia untuk meluruskan niat. Kepadatan aktivitas tidak akan menjadi beban jika sandarannya adalah Allah. Semoga kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur sehingga lebih memaknai setiap langkah yang kita ambil di dunia ini. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling berkah dalam setiap detiknya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search