Perahu Negeriku Jangan Retak Dindingmu

Perahu Negeriku Jangan Retak Dindingmu
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

“Perahu negeriku, jangan retak dindingmu” terasa seperti sebuah seruan puitis yang sarat makna. Ia menggambarkan negeri sebagai sebuah perahu simbol kebersamaan, arah, dan harapan. Dindingnya yang retak bisa diartikan sebagai keretakan sosial, moral, atau kepemimpinan yang mengancam keselamatan seluruh penumpang: rakyat.

Makna Simbolik

* Perahu: Lambang perjalanan bersama, arah tujuan, dan ketahanan menghadapi gelombang zaman.

* Dinding yang retak: Tanda keretakan internal bisa berupa konflik, korupsi, hilangnya nilai-nilai luhur, atau lemahnya fondasi spiritual dan etika.

* Seruan “jangan”: Ajakan untuk menjaga, memperbaiki, dan menyadari bahwa keretakan kecil bisa berujung pada karamnya seluruh perahu.

Refleksi Spiritual dan Kebangsaan

* Dalam kerangka Islam, menjaga “perahu negeri” bisa berarti menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, memperkuat ukhuwah, dan memastikan bahwa kepemimpinan berlandaskan ridho Allah, bukan sekadar ambisi dunia.

* Dinding yang retak bisa diperbaiki dengan taubat kolektif, pendidikan yang membebaskan, dan kepemimpinan yang jujur serta amanah.

Layar harapan

Makna “layar harapan” dalam konteks kebangkitan bangsa adalah simbol dari arah, semangat, dan cita-cita yang menggerakkan perjalanan kolektif menuju masa depan yang lebih baik. Ia bukan sekadar kain yang tertiup angin, tetapi representasi dari nilai-nilai luhur, visi bersama, dan kekuatan spiritual yang mendorong bangsa untuk bangkit dari keterpurukan dan melaju ke arah kemuliaan.

Makna Filosofis dan Spiritual dari Layar Harapan

* Layar sebagai penggerak: Tanpa layar, perahu tak akan melaju. Harapan adalah energi ruhani yang menggerakkan bangsa, terutama saat badai datang.

* Harapan sebagai cahaya: Dalam gelapnya krisis, harapan menjadi lentera yang menuntun arah. Ia lahir dari iman, doa, dan keyakinan bahwa kebangkitan itu mungkin.

* Kebangkitan sebagai pelayaran: Bangsa yang ingin bangkit harus menentukan arah, mengikat layar harapan dengan tali nilai, dan siap menghadapi angin zaman.

Ungkapan “Perahu negeriku, jangan retak dindingmu” memang bukan kutipan langsung dari Al-Qur’an, tetapi ia memuat makna simbolik yang sangat selaras dengan beberapa ayat yang berbicara tentang kapal (perahu) sebagai simbol perjalanan, perlindungan, dan ujian. Dalam konteks spiritual dan kebangsaan, kita bisa merujuk pada beberapa ayat yang mengandung makna serupa:

1. QS. Al-Kahfi : 79
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَاۗ وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا

Artinya: Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Maka, aku bermaksud membuatnya cacat karena di hadapan mereka ada seorang raja (zalim) yang mengambil setiap perahu (yang baik) secara paksa.

Perahu yang sengaja “dirusak” untuk menyelamatkan dari kezaliman menggambarkan strategi ilahi dalam menjaga yang lemah. Dalam konteks bangsa, ini bisa dimaknai sebagai perlunya kebijaksanaan dalam menghadapi ancaman sistemik agar “perahu negeri” tidak dirampas oleh kekuasaan yang zalim.

2. QS. Ar-Rahman: 24
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَاٰتُ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِۚ

Artinya: Milik-Nyalah (bahtera) buatan manusia yang berlayar di laut laksana gunung-gunung.

Makna reflektif:
Kapal dengan layar tinggi adalah simbol kekuatan dan kemuliaan. Jika layar harapan itu robek, atau dindingnya retak, maka perjalanan bangsa bisa terombang-ambing. Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan dan arah pelayaran bangsa adalah milik Allah, dan harus dijaga dengan nilai-nilai-Nya.

3. QS. Ar-Rum : 46
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ يُّرْسِلَ الرِّيٰحَ مُبَشِّرٰتٍ وَّلِيُذِيْقَكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِاَمْرِهٖ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira592) agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya, agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.

Makna reflektif:
Perahu bangsa hanya bisa berlayar dengan izin dan nilai-nilai ilahi. Retaknya dinding bisa berarti hilangnya rasa syukur, amanah, dan kesadaran spiritual dalam mengarungi kehidupan berbangsa.

“Perahu negeriku” adalah metafora untuk bangsa yang sedang berlayar menuju ridho Allah. “Retak dindingmu” adalah peringatan akan keretakan nilai, etika, dan spiritualitas. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kapal yang selamat adalah yang dibangun atas wahyu, dijalankan dengan syukur, dan dijaga dari kezaliman.

Dalam Konteks Indonesia dan Spirit Kebangsaan
Layar harapan bisa berupa:
* Pendidikan yang membebaskan, bukan sekadar mencetak angka.
* Kepemimpinan yang amanah, bukan hanya populer.
* Gerakan rakyat yang sadar nilai, bukan sekadar reaktif.

Perahu Negeri
Perahu negeriku, jangan retak dindingmu
Kami masih percaya pada layar harapan,
Meski tali persatuan kadang mengendur,
Dan ombak kepentingan menggoyang haluan.
Kami masih percaya pada layar harapan,
Yang dijahit dari doa ibu,
Dari keringat guru yang tak lelah mengajar,
Dari bisikan nurani pemimpin yang jujur.
Jangan retak, wahai dinding perahu,
Karena anak-anak negeri masih belajar bermimpi,
Masih menulis masa depan di papan-papan fitrah,
Dengan kapur kasih dan pena kejujuran.
Jika retak itu datang, mari kita tambal bersama,
Dengan nilai, dengan akhlak, dengan cinta,
Agar perahu ini tak karam di tengah zaman,
Tapi berlabuh di dermaga ridha Tuhan.

 

Tinggalkan Balasan

Search