Peran Ibu dalam Keluarga, Sebuah Penghormatan yang Mulia

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Eko Munjazanah
Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah

Ibu adalah sosok yang memiliki peran tak tergantikan dalam keluarga. Tidak hanya sebagai pendidik bagi anak-anaknya, ibu juga menjadi tiang penyangga utama dalam rumah tangga. Islam memandang ibu dengan sangat mulia, bahkan Rasulullah menegaskan bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan ayah dalam hal penghormatan dan kasih sayang seorang anak.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهُ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dalam kondisi lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)

Peran Penting Ibu dalam Keluarga:

  1. Sebagai Pendidik Utama bagi Anak
    Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sejak lahir, anak-anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan, akhlak, dan agama dari ibunya. Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
    (HR. Bukhari No. 1385, Muslim No. 2658)
    Hadis ini menunjukkan betapa besar pengaruh ibu dalam membentuk karakter dan keimanan anak sejak usia dini.
  2. Sebagai Pemberi Kasih Sayang dan Motivasi
    Kasih sayang seorang ibu tak terbatas. Ia mengasuh anak-anaknya dengan penuh cinta dan pengorbanan. Rasulullah ﷺ menggambarkan kasih sayang ibu sebagai cerminan dari kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya.                                                                                                                                                                                      Dalam sebuah riwayat, Rasulullah melihat seorang ibu yang dengan penuh cinta mencari anaknya yang terpisah dalam tawanan perang. Setelah menemukannya, ia segera memeluk dan menyusuinya.                                                                                        Rasulullah ﷺ bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “Apakah kalian melihat wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”
    Sahabat menjawab, “Tidak, demi Allah, ia tidak akan tega melakukannya.”
    Rasulullah bersabda: “Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.”
    (HR. Bukhari No. 5999, Muslim No. 2754)
  3. Sebagai Sumber Keberkahan dalam Rumah Tangga
    Ibu yang shalihah adalah kunci keberkahan dalam sebuah keluarga. Ia menjaga rumah tangga, mendidik anak-anak, dan menciptakan lingkungan yang penuh kedamaian serta keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”
    (HR. Muslim No. 1467)
  4. Sebagai Pendorong Kesuksesan Anak dan Suami
    Kesuksesan anak dan suami tidak lepas dari doa dan dukungan ibu. Seorang ibu yang shalihah akan selalu mendoakan keluarganya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
    “Tiga doa yang mustajab yang tidak ada keraguan padanya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.”
    (HR. Tirmidzi No. 1905, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)

Kisah Inspiratif dari Zaman Nabi dan Sahabat:

  1. Keteguhan Siti Hajar dalam Mendidik Nabi Ismail
    Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, adalah contoh ibu yang penuh kesabaran dan keikhlasan. Ketika Nabi Ibrahim meninggalkannya bersama bayi Ismail di lembah tandus Makkah atas perintah Allah, Siti Hajar tidak mengeluh. Ia terus berusaha mencari air untuk anaknya hingga akhirnya Allah SWT menurunkan air zamzam. Kesabaran dan keteguhan Siti Hajar membentuk kepribadian Nabi Ismail, yang kelak menjadi seorang nabi.
  2. Kesabaran Sumayyah dalam Menanamkan Keimanan kepada Ammar bin Yasir
    Sumayyah binti Khayyat adalah ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan iman. Ia dan keluarganya disiksa oleh kaum Quraisy karena memeluk Islam.                                                                                                                      Dalam kondisi yang penuh derita, ia tetap menanamkan keteguhan iman kepada putranya, Ammar bin Yasir. Rasulullah ﷺ bersabda kepada keluarga Yasir:
    “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena tempat kalian adalah surga.”
    (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak No. 5646)
    Sumayyah menjadi syahidah pertama dalam Islam, dan pengorbanannya membuahkan hasil karena Ammar bin Yasir tumbuh menjadi sahabat Rasulullah ﷺ yang teguh iman.
  3. Ummu Sulaim, Ibu yang Penuh Hikmah
    Ummu Sulaim adalah ibu dari Anas bin Malik, seorang sahabat yang mengabdi kepada Rasulullah ﷺ sejak kecil. Setelah suaminya meninggal, Ummu Sulaim dengan sabar mendidik Anas agar dekat dengan Rasulullah ﷺ. Hasilnya, Anas bin Malik menjadi sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki akhlak luar biasa.

Ibu memiliki peran yang sangat besar dalam keluarga, baik sebagai pendidik, pemberi kasih sayang, sumber keberkahan, maupun pendorong kesuksesan anak dan suami. Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada ibu, menjadikannya madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, berbakti kepada ibu adalah amalan yang sangat dicintai Allah SWT. (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

 

Tinggalkan Balasan

Search