Peran Masjid, dari Pusat Ibadah Menjadi Ruang Ramah Musafir

Peran Masjid, dari Pusat Ibadah Menjadi Ruang Ramah Musafir
www.majelistabligh.id -

Masjid kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat ibadah ritual. Dengan tata kelola yang adaptif dan ramah musafir, masjid terbukti mampu bertransformasi menjadi simpul pergerakan ekonomi umat, mulai dari penyediaan akomodasi, pusat kuliner, hingga pengembangan badan usaha mandiri.

Gagasan strategis ini mengemuka dalam diskusi panel bertema “Masjid Ramah Musafir” pada rangkaian Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Muhammadiyah di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (25/10/2026).

Sesi ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Ketua LPCR-PM PP Muhammadiyah Muhammad Jamaluddin Ahmad, Wakil Ketua MEK PP Muhammadiyah Syauqi Soeratno, Bendahara PWM Jawa Timur drh. Zainul Muttaqin, serta perwakilan Dinas Pariwisata DIY, Arif Sulfiantono.

Dalam pemaparannya, Muhammad Jamaluddin Ahmad mengungkapkan bahwa LPCR-PM bersama Majelis Tabligh terus menggenjot pembinaan masjid, salah satunya melalui perintisan masjid percontohan. Untuk itu, pihaknya merancang Sistem Informasi Masjid Muhammadiyah (SIMASMU) guna mengatasi minimnya basis data yang valid.

Berdasarkan data dari sekitar 4.600 masjid yang telah terhimpun, rata-rata jumlah jamaah berkisar di angka 30 orang per waktu salat. Menurut Jamaluddin, data empiris ini menjadi fondasi penting dalam merumuskan program pembinaan.

“Kalau kita bekerja tanpa data, biasanya justru melahirkan masalah,” tegasnya.

Meski demikian, sejumlah masjid ranting telah membuktikan diri sebagai motor penggerak ekonomi. Ia mencontohkan Masjid Baitul Mukhlisin di Ponorogo yang sukses mendirikan Badan Usaha Milik Masjid, mulai dari layanan laundry, minimarket Suryamart dengan omzet laba bersih hingga Rp25 juta per bulan, hingga restoran berkapasitas besar. Masjid ini bahkan mampu mengalokasikan bantuan dana operasional bagi 13 RT di sekitarnya.

Sementara itu, drh. Zainul Muttaqin mengingatkan agar pengelolaan unit usaha milik masjid dijalankan secara profesional layaknya entitas bisnis yang menghasilkan keuntungan memadai bagi Persyarikatan.

Menurutnya, esensi utama pelayanan masjid ramah musafir terletak pada aspek memanusiakan manusia serta pemanfaatan media digital secara optimal untuk syiar. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search