Perang Belum Berakhir

Perang Belum Berakhir
*) Oleh : Drs Muhammad Nashihudin MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Demikianlah menurut teks yang diketengahkan oleh Imam Tirmidzi. Kemudian Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih, kami tidak mengenalnya melainkan melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad.

Hal yang semisal telah diriwayatkan secara mursal bersumber dari sejumlah tabi’in, seperti Ikrimah, Asy-Sya’bi, Mujahid, Qatadah, As-Saddi, dan Az-Zuhri serta lain-lainnya.

Di antara teks yang paling garib sehubungan dengan kisah ini adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Sunaid ibnu Daud di dalam kitab tafsirnya.

Ia mengatakan: telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Abu Bakar ibnu Abdullah, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa di negeri Persia terdapat seorang wanita yang semua putranya adalah pendekar-pendekar dalam perang. Maka Kisra (Raja Persia) mengundangnya dan mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya aku berniat akan mengirimkan sejumlah pasukan untuk melawan bangsa Romawi, dan aku ingin agar yang memimpin pasukan itu adalah seorang lelaki dari anak-anakmu. Maka kemukakanlah pendapatmu kepadaku, siapakah yang pantas aku gunakan untuk tugas ini?” Wanita itu menjawab, “Inilah si Fulan, dia lebih licik daripada musang dan lebih awas daripada burung elang. Ini si Farkhan, dia lebih tajam daripada ujung tombak. Dan ini si Syahriraz, dia lebih hati-hati daripada semuanya. Silahkan pilih, mana di antara mereka yang engkau sukai.”

Raja Persia berkata, “Sesungguhnya aku akan memakai orang yang paling hati-hati dari mereka.” Maka Raja Persia mengangkat Syahriraz sebagai panglima pasukannya. Syahriraz berangkat membawa pasukan Persia menuju ke negeri Romawi, dan ternyata dia berhasil memenangkan peperangan, banyak tentara Romawi yang gugur dalam perang itu; Syahriraz merusak kota-kota besar negeri Romawi dan menebangi pohon-pohon zaitunnya. Abu Bakar ibnu Abdullah (perawi) menceritakan kisah ini kepada Ata Al-Khurrasani, maka Ata berkata, “Sudahkah kamu melihat negeri Syam?” Aku (Abu Bakar ibnu Abdullah) menjawab, “Belum.” Ata berkata, “Ingatlah, bila kamu berkunjung ke negeri Syam, tentulah kamu akan menyaksikan kota-kota besar yang telah dihancurkan dan pohon-pohon zaitun yang telah ditebangi.” Sesudah itu aku pergi berkunjung ke negeri Syam, dan ternyata aku menyaksikan bekas-bekas tersebut. Ata Al-Khurrasani mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Ya’mur, bahwa Kaisar Romawi mengirimkan seorang panglima perang bernama Qatmah untuk memimpin pasukan Romawi, sedangkan Kisra mengirimkan Syahriraz untuk memimpin pasukan Persia. Kedua pasukan bertemu dalam medan perang di antara azri’at dan Basra, kawasan negeri Syam yang paling dekat dengan kalian (orang Arab). Akhirnya pasukan Romawi dikalahkan oleh pasukan Persia.

Mendengar berita tersebut orang-orang musyrik Quraisy merasa senang, sedangkan kaum muslim tidak suka dengan berita itu. Orang-orang musyrik menjumpai sahabat Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan mengatakan, “Sesungguhnya kalian Ahli Kitab dan orang Nasrani pun Ahli Kitab, sedangkan kami adalah orang-orang ummi. Dan saudara-saudara kami bangsa Persia (yakni dalam hal akidah) beroleh kemenangan atas saudara-saudara kalian Ahli Kitab. Dan sesungguhnya jika kalian memerangi kami, pastilah kami pun akan beroleh kemenangan atas kalian.” Maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menurunkan firman-Nya: Alif Lam Mim, Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat. (Ar-Rum: 1-3) sampai dengan firman-Nya: Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. (Ar-Rum: 5) Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang kafir dan mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian merasa gembira dengan kemenangan saudara-saudara kalian atas saudara-saudara kami, janganlah kalian bergembira dahulu, kelak Allah pasti akan membuat hati kalian tidak senang.

Demi Allah, sesungguhnya Dia akan memenangkan bangsa Romawi atas bangsa Persia; hal ini telah diberitakan kepada kami oleh Nabi kami.” Maka bangkitlah Ubay Ibnu Khalaf, lalu berkata, “Hai Abu Fudail (nama julukan lain Abu Bakar), kamu dusta.” Abu Bakar berkata kepadanya, “Engkau lebih dusta, hai musuh Allah.” Ubay berkata, “Aku berani bertaruh denganmu sepuluh ekor unta dariku dan sepuluh ekor unta darimu. Jika bangsa Romawi menang atas bangsa Persia, maka aku kalah. Dan jika bangsa Persia tetap menang, maka engkaulah yang kalah. Kita tunggu sampai tiga tahun mendatang.” Kemudian Abu Bakar datang menghadap Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan menceritakan hal tersebut kepadanya.

Maka Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, “Bukan demikian yang kumaksudkan, sesungguhnya pengertian beberapa tahun itu adalah antara tiga sampai sembilan tahun. Sekarang tambahlah taruhannya dan perpanjanglah masanya.” Abu Bakar keluar, lalu menjumpai Ubay. Ubay langsung berkata kepadanya, “Barangkali kamu menyesal.” Abu Bakar menjawab, “Tidak, sekarang aku akan menambah taruhanku kepadamu dan memperpanjang masanya. Aku setuju bertaruh dengan seratus ekor unta sampai dengan masa sembilan tahun.” Ubay menjawab, “Saya setuju.” Dan ternyata belum lagi masa sembilan tahun habis, bangsa Romawi beroleh kemenangan atas bangsa Persia, akhirnya kaum muslim berhasil memenangkan taruhan itu. Ikrimah melanjutkan kisahnya, bahwa setelah bangsa Persia beroleh kemenangan atas bangsa Romawi, Farkhan (saudara Syahriraz) duduk sambil minum-minum, lalu berkata kepada teman-teman bawahannya, “Sesungguhnya aku bermimpi seakan-akan diriku sedang duduk di atas singgasana Kisra (Raja Persia).” Ternyata pembicaraannya itu disadap, lalu sampai ke Kisra. Maka Kisra menulis surat perintah kepada Syahriraz yang isinya mengatakan, “Jika engkau telah membaca suratku ini, kirimkanlah kepadaku kepala Farkhan.” Syahriraz menjawab surat Kisra dengan mengatakan, “Wahai tuan raja, sesungguhnya engkau tidak akan dapat menjumpai orang yang seperti Farkhan. Dia ahli dalam bersiasat perang dan sangat disegani oleh lawan, jangan engkau lakukan hal tersebut.” Maka Kisra menjawab suratnya, “Sesungguhnya di kalangan pasukan Persia banyak dijumpai orang yang mampu menggantikan kedudukannya. Sekarang serahkanlah kepala Farkhan kepadaku.” Syahriraz kembali menjawab surat Kisra dan masih belum memenuhi perintahnya. Maka Kisra berkirim surat kepada pasukan Persia yang isinya mengatakan, “Sesungguhnya aku telah memecat Syahriraz sebagai panglima kalian, dan sebagai penggantinya aku angkat Farkhan.” Kemudian Kisra menulis surat rahasia kepada penyampai suratnya seraya mengatakan kepadanya, “Jika Farkhan telah menjabat sebagai panglima perang dan saudaranya (yaitu Syahriraz) tunduk kepadanya, maka berikanlah surat rahasia ini kepadanya.”

Setelah Syahriraz membaca surat Kisra, ia mengatakan, “Aku tunduk dan patuh kepada perintah Kisra,” lalu ia turun dari jabatannya dan kedudukannya diganti oleh Farkhan. Maka surat rahasia itu disampaikan kepada Farkhan. Setelah ia membaca surat itu, berkatalah ia, “Hadapkanlah kepadaku Syahriraz.”

Ketika Syahriraz telah dihadapkan kepadanya, Farkhan bersiap-siap hendak memenggal kepalanya, tetapi Syahriraz berkata, “Jangan terburu-buru, sebelum aku menulis surat wasiatku.” Farkhan menjawab, “Baiklah.” Maka Syahriraz mengambil arsip dan memberikan kepada Farkhan beberapa lembar surat seraya berkata, “Semua surat ini membuktikan sanggahanku terhadap Kisra sehubungan dengan hukuman mati atas dirimu, dan sekarang engkau hendak membunuhku hanya dengan sebuah surat saja.”

Maka Farkhan menyerahkan kembali tampuk kepemimpinan kepada saudaranya Syahriraz. Lalu Syahriraz berkirim surat kepada Kaisar Romawi yang isinya mengatakan, “Sesungguhnya aku mempunyai keperluan penting denganmu yang tidak dapat disampaikan melalui juru kirim surat dan tidak dapat ditulis di dalam lembaran-lembaran kertas, melainkan harus kusampaikan secara langsung kepadamu. Temuilah aku dengan membawa lima puluh orang pasukan Romawi, aku pun akan menemuimu hanya dengan membawa lima puluh orang pasukan Persia.” Tetapi Kaisar Romawi datang dengan membawa lima ratus ribu orang pasukan dan memasang mata-matanya dijalan yang akan dilaluinya. Dia merasa khawatir bila berita ini hanya semata-mata tipu muslihat dari pihak musuh yang hendak menjebaknya. Kemudian datanglah mata-matanya melaporkan bahwa Syahriraz datang hanya dengan membawa lima puluh orang personil pasukannya. Kemudian raja (panglima pasukan) Romawi menyambut kedatangan panglima pasukan Persia dan keduanya mengadakan pertemuan di dalam sebuah tenda sutra yang khusus dibuat untuk pertemuan ini. Masing-masing pihak hanya membawa sebuah belati, lalu masing-masing pihak memanggil juru terjemahnya.

Maka Syahriraz membuka pembicaraan, “Sesungguhnya orang-orang yang merusak kota-kota besarmu adalah aku dan saudaraku dengan tipu muslihat kami dan berkat keberanian kami. Dan sesungguhnya sekarang Kisra (Raja Persia) merasa dengki terhadap kami. Dia ingin agar aku membunuh saudaraku, tetapi aku menolaknya. Setelah itu Kisra memerintahkan kepada saudaraku untuk membunuhku. Sekarang kami berdua telah dipecat dari jabatan kami, dan berniat akan memeranginya bersama-sama denganmu.” Panglima pasukan Romawi berkata, “Kamu berdua benar.” Kemudian salah satu pihak berisyarat kepada pihak lain yang mengandung arti bahwa rahasia itu harus dipegang oleh dua orang.

Bila lebih dari itu, maka rahasia tersebut akan terbongkar. Pihak yang lain memahami isyarat tersebut, lalu keduanya membunuh juru terjemahnya masing-masing dengan pisau belati. Setelah kejadian itu Allah membinasakan Kisra (yakni membuatnya kalah dalam peperangan), dan beritanya sampai kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pada hari Perjanjian Hudaibiyah. Maka bergembiralah hati beliau bersama kaum muslim yang ada bersamanya saat itu. Hadis ini berpredikat garib, begitu pula teksnya.

 

Tinggalkan Balasan

Search