“Looking up is for motivation, and looking down is to be more grateful”
“(Melihat ke atas sebagai motivasi, dan melihat ke bawah agar lebih bersyukur)”
Istikamah adalah keteguhan hati dalam menjalankan perintah Allah. Namun, perjuangan terberat dalam beristikamah bukanlah sekadar menjaga penampilan syar’i atau rajin mengikuti majelis ilmu, melainkan Perang Sunyi Melawan “Aku Lebih Baik” dalam hati.
Ini adalah ujian keikhlasan sejati. Allah Swt. berfirman,
فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
Artinya:
”Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Qs. An-Najm: 32)
Ayat ini menampar setiap kecenderungan hati untuk memuji dan membersihkan diri sendiri. Allah menegaskan bahwa hanya Dia yang mengetahui hakikat ketakwaan seseorang. Merasa lebih baik, lebih alim, atau lebih saleh dari orang lain adalah bibit kesombongan (ujub) yang bisa menghapus amal kebaikan.
Istikamah sejati adalah menyibukkan diri mengoreksi kekurangan diri sendiri, bukan menilai kelebihan orang lain. Dalam hadis, Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
Artinya:
“Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim No. 2749)
Kesombongan dalam hadits ini dijelaskan sebagai “menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Merasa diri lebih baik adalah akar dari peremehan ini.
Jadi, Istikamah terberat adalah kerendahan hati. Konsistensi dalam ibadah akan sia-sia jika hati dikuasai rasa ujub dan sombong. Seorang mukmin sejati selalu merasa dirinya yang paling banyak kekurangan dan melihat orang lain lebih berhak mendapatkan rahmat Allah. Jaga hati, karena di sanalah nilai amal kita di hadapan-Nya ditentukan.
Semoga bermanfaat. (*)
