Perbedaan Awal Bulan adalah Wilayah Ijtihadiyah

Perbedaan Awal Bulan adalah Wilayah Ijtihadiyah
www.majelistabligh.id -

Mengawali khutbah Salat Idulfitri 1447 H di Lapangan Panser Sumput Sidoarjo, Jumat (20/3/2026), Dr H. Suli Da’im, MM mengingatkan tantangan perbedaan dalam setiap menentukan awal Ramadan dan Syawal.

“Setiap tahun umat Islam kerap menghadapi perbedaan dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal. Perbedaan ini lahir dari metode ijtihad yaitu rukyat dan hisab. Semua memiliki dasar syar’i dan pijakan ilmiah,” ungkapnya.

Perbedaan Awal Bulan adalah Wilayah Ijtihadiyah
Suli Daim bersama para pengurus PRM Cemengkalag, Sarirogo dan Sumput. (dok prm)

Lebih lanjut Anggota Komisi E DPRD Jatim ini mengkutip hadis Riwayat Buchori Muslim Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

: صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

Shuumuu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi, fa’in ghumma ‘alaikum fa’akmiluu sya’baana tsalaatsiina.

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal Ramadhan), dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya (hilal Syawal). Jika (hilal) tertutup mendung, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari“.
Kemudian membandingkan pada qur’an Surat Yunus Ayat 5

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ

وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْن

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui.

Mantan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jatim ini menguraikan penjelasan hisab dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 5 ini, karena ayat ini menjadi dasar ilmiah dan syari dalam penentuan waktu (termasuk kalender hijriah).

“Kata “hisab” (حساب) dalam ayat ini berarti perhitungan yang sistematis dan terukur. Matahari dan bulan bergerak dengan hukum yang pasti. Pergerakan itu bisa dihitung secara matematis tujuannya agar manusia itu dapat menentukan waktu, menyusun kalender, mengetahui pergantian tahun dan bulan, dan ini menjadi legitimasi bahwa ilmu falak (astronomi Islam) adalah bagian dari perintah memahami tanda-tanda kebesaran Allah,” urai Ketua Umum IKA Umsura ini.

Lebih lanjut dia mengingatkan, keduanya sebenarnya saling melengkapi, bukan bertentangan. Islam itu mendorong rasionalitas dan sains, alam semesta itu bersifat teratur dan dapat dihitung. Oleh karena itu umat Islam didorong menjadi ilmuwan (ahli falak) dan terbukti dalam sejarah bahwa Ilmuwan Muslim telah mengembangkan ilmu hisab secara sangat maju, ungkapnya.

Dari ayat ini muncul perdebatan, sebagian ulama menggunakan rukyat lebih utama (tekstual hadits) sebagian umat yang lain menjadikan hisab, bisa jadi dasar penentuan (berbasis ayat salah satu quran Surat Yunus Ayat 5) bahwa pergerakan matahari dan bulan adalah sistem ilahi yang terukur, hisab adalah alat untuk memahami waktu secara ilmiah. Islam tidak hanya spiritual, tapi juga mendorong sains dan perhitungan akurat.

“Perkembangan ilmu falak melahirkan metode hisab sebagai bentuk ijtihad ulama. Maka perbedaan awal bulan adalah wilayah ijtihadiyah, bukan wilayah akidah,” tegas Wakil Ketua Umum
Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) ini.

Dia mengingatkan bahwa kita ini bersaudara lalu mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

Artinya, bahwa, persaudaraan harus lebih tinggi daripada perbedaan metode.

Salat Idulfitri di Lapangan Panser Sumput dihadiri ratusan jamaah meskipun dilaksanakan lebih dulu dari keputusan pemerintah. Suli Da’im berharap sebagai bangsa yang besar dan majemuk, Indonesia telah menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Melalui sidang isbat, para ulama, ormas Islam, dan pakar astronomi duduk bersama bermusyawarah. Ormas-ormas besar memiliki metode masing-masing yang dilandasi ijtihad ilmiah dan tradisi keilmuan panjang.

Perbedaan itu hendaknya tidak menjadi sebab renggangnya ukhuwah, tetapi menjadi bukti kekayaan khazanah keilmuan Islam. Bijaksana dalam perbedaan berarti kita menghormati keputusan yang kita yakini tanpa merendahkan yang lain. Tidak menjadikan mimbar dan media sosial sebagai arena saling menyalahkan. Mengedepankan maslahat umat dan persatuan bangsa, harapnya.

Di era globalisasi, muncul gagasan tentang Kalender Hijriah Global Tunggal, yaitu sebuah upaya dalam menyatukan penanggalan Islam secara internasional agar umat Islam memiliki satu sistem kalender yang sama di seluruh dunia. Tujuannya adalah bukan sekadar teknis penanggalan, tetapi demi persatuan umat dan kemudahan koordinasi ibadah global.

Namun, kita memahami bahwa penyatuan kalender bukan perkara sederhana. Ini menyangkut perbedaan mazhab, otoritas keagamaan, dan pertimbangan astronomi. Karena itu, selama proses ijtihad ini berjalan, umat Islam dituntut untuk tetap menjaga kedewasaan dan persatuan, harap Suli Da’im menyakinkan.

Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para pemimpin bangsa, sangat penting dalam menjaga kesejukan. Mereka harus menjadi teladan dalam menenangkan umat, bukan memperkeruh suasana. Mereka harus menjadi jembatan persatuan, bukan sumber polarisasi.

Sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila dan menjunjung tinggi persatuan, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia adalah umat yang dewasa, moderat, dan mampu mengelola perbedaan dengan hikmah, kata Suli.

Di akhir khutbahnya ia menekankan, persatuan bukan berarti menyeragamkan semua perbedaan. Persatuan adalah kesediaan untuk tetap bersaudara dalam bingkai iman dan kebangsaan meski memiliki perbedaan keyakinian, metode dan lain sebagainya.

“Idulfitri 1447 H ini, hendaknya menjadi momentum kita untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah, meneguhkan ukhuwah wathaniyah, mendorong dialog ilmiah menuju penyatuan kalender umat dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan laknat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan Punto Cahyo Al Adin, M.Pd., C.ITQ dari PRM Cemengbakalan menyampaikan, sebagai inovasi dakwah, pihaknya sengaja berkolaborasi dengan PRM sekitar untuk menggelar salat Id Bersama.

“Kami menyadari perlunya membangun jalan dakwah melalui inovasi dan relasi yang dibangun untuk berjuang bersama di Muhammadiyah dan mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran sebagai wujud lii’lai kalimatillaah,” ujar Punto Cahyo yang juga Ketua Majelis Pemberdayaan PCM Sidoarjo itu.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua PRM Cemengbakalan Karmujiono  pun menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak, mulai PRM Sarirogo dan PRM Sumput sehingga salat Id berlangsung dengan lancar.

“Tentunya kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak, terutama dari Dankikav 3/TSC Kapten Kav Reza Eko Nugroho, S.T. Han atas fasilitas lokasi sehingga salat Id bisa berlangsung,” ujarnya. (Punto Cahyo Al Adin)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search