Jika kita berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada kita. Namun jika kita berbuat buruk, maka keburukan itu niscaya akan kembali kepada kita.
Percayalah hukum sebab akibat itu ada, maka teruslah berusaha untuk melakukan kebaikan sekecil apapun. (Haidar Nashir Insight)
Prinsip bahwa segala perbuatan baik maupun buruk akan kembali kepada diri kita sendiri adalah hukum universal yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, misalnya dalam Surat Al-Isra’ ayat 7:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ
Artinya: Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.
Makna Utama
Kebaikan → manfaat diri sendiri
Amal baik menumbuhkan ketenangan hati, keberkahan hidup, dan pahala di sisi Allah.
* Kebaikan kembali pada pelaku: setiap amal baik, meski tampak kecil, menumbuhkan ketenangan batin, keberkahan hidup, dan pahala di sisi Allah.
* Manfaat langsung: orang yang berbuat baik akan merasakan buahnya dalam bentuk kepercayaan, cinta, dan dukungan dari orang lain.
* Efek berantai: kebaikan yang ditanam pada orang lain akan kembali dalam bentuk lingkungan yang sehat dan penuh rahmat.
Keburukan → kerugian diri sendiri
Amal buruk merusak jiwa, hubungan sosial, dan pada akhirnya kembali sebagai beban.
* Keburukan kembali pada pelaku: setiap amal buruk, meski tampak kecil, akan merugikan diri sendiri, baik di dunia maupun akhirat.
* Kerugian batin: keburukan menimbulkan rasa bersalah, kegelisahan, dan hilangnya keberkahan hidup.
* Kerugian sosial: orang yang berbuat zalim akan kehilangan kepercayaan, cinta, dan dukungan dari lingkungannya.
* Kerugian spiritual: amal buruk menjauhkan dari rahmat Allah dan menggelapkan hati.
Hukum sebab-akibat
Allah menegaskan bahwa manusia tidak bisa lari dari konsekuensi amalnya.
Inti Hukum Sebab-Akibat
* Kebaikan → manfaat diri sendiri
Amal baik menumbuhkan ketenangan, keberkahan, dan pahala.
* Keburukan → kerugian diri sendiri
Amal buruk menimbulkan kegelisahan, kerusakan sosial, dan dosa.
* Kepastian hukum Allah: tidak ada amal yang sia-sia; semuanya akan kembali kepada pelakunya.
Dalam perspektif Islam, prinsip bahwa segala perbuatan baik maupun buruk akan kembali kepada pelakunya adalah sebuah sunnatullah yang ditegaskan berulang kali dalam Al-Qur’an.
Landasan Qur’ani
1. QS. Al-Zalzalah [99]: 7–8
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ
Artinya: Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.
Ayat ini menegaskan bahwa sekecil apa pun amal akan kembali kepada kita, tidak ada yang sia-sia.
Dimensi Dunia dan Akhirat
Di dunia:
* Kebaikan melahirkan ketenangan hati, keberkahan hidup, dan hubungan sosial yang harmonis.
* Keburukan menimbulkan keresahan batin, rusaknya hubungan, dan sering berbalik menjadi kesulitan.
Di akhirat:
* Amal baik menjadi pahala yang menyelamatkan.
* Amal buruk menjadi dosa yang mendatangkan siksa, kecuali diampuni Allah dengan taubat.
Hikmah Utama
* Islam mengajarkan tanggung jawab pribadi: setiap manusia adalah penanggung jawab atas amalnya.
* Prinsip ini menumbuhkan kesadaran moral: tidak ada perbuatan yang hilang begitu saja, semuanya akan kembali kepada kita sebagai balasan yang adil.
* Hal ini juga menjadi kompas fitrah: mengarahkan manusia untuk memilih jalan kebaikan karena sadar bahwa hasilnya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Jadi, perbuatan baik dan buruk ibarat benih yang kita tanam. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai—baik di dunia maupun di akhirat. (*)
