Peringatan Buya Hamka: Runtuhnya Sebuah Bangsa

Peringatan Buya Hamka: Runtuhnya Sebuah Bangsa
www.majelistabligh.id -

Runtuhnya suatu bangsa tidak sekadar berkaitan dengan takdir, melainkan buah dari melemahnya iman, surutnya etos kerja, serta kegagalan dalam membangun masyarakat yang tangguh. Demikian intisari pandangan ulama kharismatik Nusantara, Prof. Dr. Buya Hamka, dalam mahakaryanya, Tafsir Al-Azhar.

Buya Hamka menjelaskan bahwa sejarah naik dan turunnya kerajaan, bangsa, serta peradaban besar tidak boleh dipahami secara sempit. Umat Islam perlu mengkajinya melalui lensa filsafat sejarah dan ilmu sosiologi agar mampu memetik pelajaran berharga dari lembaran masa lalu.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menguraikan surah Yunus ayat 13 dan 14 yang merekam jejak kebinasaan umat-umat terdahulu akibat kezaliman dan penolakan mereka terhadap kebenaran para rasul. Ujung dari Surah Yunus ayat 14 menegaskan kehendak Allah SWT untuk melihat bagaimana manusia berbuat dan beramal (linalnuzura kaifa ta’malun).

Ayat tersebut, tulis Hamka, mengandung landasan ilmu yang krusial dalam mengkaji naik turunnya suatu kekuasaan serta semarak atau muramnya peradaban sebuah bangsa.

“Ujung ayat ini menyuruh kita belajar filsafat sejarah dan ilmu kemasyarakatan (sosiologi),” tulis Buya Hamka.

Peringatan yang Berulang dalam Bentuk Berbeda

Hamka mengingatkan bahwa kehancuran negeri-negeri masa lampau—seperti kaum Ad, Tsamud, Madyan, hingga Sodom—akan terulang kembali di masa-masa setelahnya dalam format dan bentuk yang berbeda. Jika dahulu umat terdahulu mendustakan mukjizat fisik para nabi, maka umat di era setelah kenabian diuji melalui konsistensi mereka terhadap Alquran yang terus hidup abadi melintasi zaman.

Ia lantas menarik garis sejarah kejatuhan peradaban Islam yang lebih modern, yang menurutnya bahkan jauh lebih getir daripada runtuhnya kaum-kaum nabi terdahulu. Peristiwa terusirnya lebih dari empat juta kaum Muslimin dari Spanyol pada abad ke-16, penguasaan tiga perempat wilayah negeri Islam oleh penjajah selama berabad-abad, hingga berdirinya negara Israel di tengah jantung kebudayaan Arab, merupakan manifestasi nyata dari kemunduran umat akibat kelalaian internal.

Sayangnya, realitas pahit ini kerap disikapi sebagian kalangan ulama dan sarjana Islam secara pesimistis (tasyaa’um). Banyak yang hanya memandang musibah tersebut semata-mata sebagai azab Tuhan tanpa melakukan instrospeksi, atau menggantungkan harapan secara pasif pada penantian kedatangan Imam Mahdi tanpa ikhtiar perbaikan nyata.

Bangkit Melalui Iman dan Etos Kerja

Di tengah gelombang pesimisme tersebut, Hamka memuji pemikiran Ibnu Khaldun melalui kitab monumentalnya, Muqaddimah. Ibnu Khaldun menjadi sedikit dari sedikit akademisi Islam yang mengupas hukum sosiologis di balik naik dan turunnya peradaban secara objektif dan ilmiah.

Kembali merujuk pada pesan universal Alquran, Hamka menegaskan bahwa eksistensi suatu bangsa sangat bergantung pada dinamika amal dan usaha manusia itu sendiri.

“Apabila semangat bekerja masih berkobar, berdasarkan iman kepada Allah, suatu masyarakat atau suatu negara tidak akan runtuh. Tetapi, apabila semangat bekerja mulai kendur karena iman yang mendorongnya pun sudah padam, keruntuhan tidak dapat dicegah lagi. Yang lemah hancur dan yang kuat naik,” tegas Buya Hamka.

Hamka mengingatkan bahwa Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw harus senantiasa diposisikan sebagai panduan utama penjelajah waktu. Kekuatan iman mampu membangkitkan kembali semangat umat yang nyaris runtuh, asalkan mereka mau kembali menegakkan amal saleh dan beradaptasi secara progresif tanpa kehilangan akar nilai ilahiah. || sumber: republika

 

Tinggalkan Balasan

Search