Perjuangkan Istikamahanmu Guruku

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Mahmud 
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur

Madrasah/sekolah tak lahir dari bangunan megah semata, melainkan dari suasana yang menumbuhkan karakter, semangat belajar dan jiwa keberagaman.

Untuk menciptakan iklim madrasah/sekolah yang positif, langkah awal yang paling mendasar adalah pembiasaan pembiasaan kecil yang baik – yang dilakukan secara istikamah.

Iklim positif bukan sekedar suasana ceria, tetapi merupakan ekosistem yang mendorong tumbuhnya akhlak mulia, kedisiplinan, empati, dan semangat kolaborasi.

“Perjuangkan istikamahmu, guruku” bukan sekadar seruan—itu adalah doa yang bergetar dalam jiwa, mengingatkan kita bahwa konsistensi dalam kebaikan adalah jihad yang sunyi namun agung.

Berjuang menjaga istikamah itu seperti menapaki jalan panjang dalam kabut: tidak selalu terlihat ujungnya, tapi setiap langkah adalah bukti niat dan tekad.

Guru yang berusaha istikamah bukan hanya sedang membimbing murid, tapi sedang menata hatinya di hadapan Allah.

Tantangan istikamah bagi seorang guru bukan hanya soal mengajar dengan konsisten, tetapi menjaga ruh dan niat di tengah dinamika kehidupan. Berikut beberapa tantangan utama yang kerap dihadapi guru dalam menjaga istiqomahnya:

1. Pergulatan Batin dan Niat
• Godaan untuk mengajar demi pengakuan atau prestasi, bukan lillahi ta’ala.
• Hilangnya semangat ketika tidak melihat hasil instan dari murid.
• Lupa bahwa pendidikan adalah ibadah dan jalan menuju ridha Allah.

2. Tekanan Sosial dan Sistemik
• Tuntutan administratif yang menyita waktu reflektif dan ruhiyah.
• Sistem pendidikan yang lebih menekankan output daripada proses ruhani.
• Minimnya dukungan dari lingkungan atau atasan dalam menjaga nilai-nilai spiritual.

3. Rutinitas yang Membuat Lelah
• Mengajar hari demi hari bisa menjadi rutinitas yang kehilangan makna jika tidak disertai muhasabah.
• Tantangan menjaga kreativitas dan semangat dalam pembelajaran.

4. Interaksi yang Menguras Emosi
• Menghadapi murid yang berakhlak madzmumah, orang tua yang menuntut, atau rekan kerja yang tidak suportif.
• Godaan untuk bereaksi secara emosional dan tidak sabar.

5. Keteladanan yang Dituntut
• Seorang guru bukan hanya mengajar, tapi dituntut menjadi contoh akhlak dan integritas.
• Ini membutuhkan kesadaran diri yang konstan dan niat yang diperbaharui terus-menerus.

Kita perlu menyadari bahwa perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil. Menyapa siswa dengan salam dan senyum setiap pagi, membiasakan murid antre dengan tertib, membersihkan kelas sebelum belajar, atau membudayakan membaca al-Qur’an di awal pelajaran, adalah contoh sederhana, namun berdampak besar jika dilakukan secara terus menerus.

Tanpa istikamah pembiasaan hanya akan menjadi formalitas yang kehilangan makna. Maka seluruh elemen madrasah / sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga siswa – harus bersatu dalam komitmen moral untuk menjadikan pembiasaan positif sebagai nafas keseharian madrasah / sekolah.

Ketika nilai – nilai positif seperti disiplin, tanggungjawab, dan kepedulian di biasakan dengan cinta, maka madrasah / sekolah pun menjelma menjadi rumah yang menentramkan hati.

Maka kita bangun iklim positif madrasah / sekolah bukan dengan wacana semata, tetapi dengan aksi nyata yang di landasi kesadaran dan keistiqomahan. Karena sesungguhnya, madrasah / sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi tempat menanam karakter yang akan di bawa anak anak kita seumur hidup

Istikamah dalam kebaikan adalah kunci keberlanjutan perubahan. Mulailah dari diri sendiri, BIASAKAN YANG BENAR, DAN BENARKAN YANG SUDAH BIASA. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search