Generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, sedang merevolusi konsep pernikahan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika generasi sebelumnya sering menikah di usia 20-an awal, Gen Z justru menunda hingga 30-an atau bahkan memilih untuk tidak menikah sama sekali.
Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat rata-rata usia kawin pertama melonjak menjadi 28 tahun untuk perempuan dan 30 tahun untuk laki-laki—kenaikan signifikan dari dekade sebelumnya. Tren global serupa: survei Pew Research Center 2025 menunjukkan hanya 40% Gen Z AS berencana menikah sebelum 30 tahun, turun dari 60% milenial.
Beberapa faktor pendorong utama di balik fenomena ini patut dicermati. Pertama, prioritas karir dan finansial. Gen Z memasuki pasar kerja di tengah pandemi COVID-19 dan resesi ekonomi, membuat stabilitas keuangan jadi syarat mutlak.
Survei Snapcart Indonesia 2025 mengungkap 62% responden Gen Z di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya mengaku “belum siap nikah karena gaji pas-pasan”. Mereka ingin rumah sendiri, mobil, atau tabungan darurat sebelum komitmen, menghindari jebakan “nikah miskin, cerai kaya”.
Kedua, pengaruh media sosial dan dating app. Tumbuh dengan algoritma Tinder, Bumble, dan TikTok, Gen Z melihat cinta sebagai “menu pilihan” yang tak terbatas. Hubungan sempurna ala influencer sering berujung breakup viral, menciptakan FOMO (fear of missing out) dan cynism terhadap pernikahan.
Di Indonesia, platform seperti Tantan dan Lemon8 mempercepat “situationship”—hubungan tanpa ikatan formal yang nyaman tapi dangkal. Psikolog seperti Dr. Jean Twenge dalam bukunya iGen (edisi 2023) menyebut ini sebagai “paradoks pilihan”: semakin banyak opsi, semakin sulit berkomitmen.
Ketiga, perubahan nilai sosial. Gen Z lebih egaliter, menuntut kesetaraan gender, dukungan kesehatan mental, dan fleksibilitas. Norma tradisional seperti “perempuan harus kawin muda” ditolak mentah-mentah. Pengalaman orang tua—dengan tingkat perceraian 40-50% di kalangan milenial—membuat mereka trauma. Sebuah studi Universitas Indonesia (UI) 2024 menemukan 55% mahasiswa Gen Z takut “toxic marriage” karena melihat drama keluarga di medsos.
Meski terlihat pesimistis, pernikahan Gen Z punya sisi cerah. Mereka lebih selektif dan berkualitas. Pasangan ideal adalah yang match secara intelektual, finansial, dan emosional—bukan sekadar “jodoh dari orang tua”. Tren “DINK” (Double Income No Kids) meledak: menikah tapi skip anak demi karir dan petualangan.
Di Indonesia, komunitas seperti “Wedding Minimalis” di Instagram menawarkan pesta sederhana Rp50-100 juta, eco-friendly dengan dekorasi daur ulang.
Contoh nyata: Rara, 27 tahun, content creator dari Surabaya, menikah tahun 2025 setelah 5 tahun pacaran. “Kami tunggu sampai punya tabungan bersama dan therapy pra-nikah,” katanya.
Pernikahannya egaliter: suami masak, istri urus keuangan. Kisah serupa banyak di Gen Z urban, di mana pernikahan jadi “partnership”, bukan “pengorbanan”. (*)
