Pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di lingkungan Muhammadiyah Kota Banjarmasin, khususnya di PCM Banjarmasin 9, berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan semangat kebersamaan. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Masjid Al-Mukhlisin, Jalan Mangga ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga sarana penyampaian pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kondisi umat saat ini.
Ketua PCM Banjarmasin 9, Dr. H. Syahrituah Siregar, MA dalam sambutannya sebelum pelaksanaan Salat Id menyampaikan bahwa Idulfitri merupakan momentum kembali kepada fitrah, yaitu kesucian hati dan kejernihan akhlak setelah menjalani proses pendidikan spiritual selama Ramadan.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung pentingnya kesatuan dalam pelaksanaan ibadah, termasuk dalam penetapan waktu Idulfitri melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mulai diperkenalkan Muhammadiyah.
“Idulfitri bukan hanya tentang kemenangan pribadi, tetapi juga tentang kebersamaan umat. KHGT adalah salah satu langkah strategis untuk menyatukan umat dalam waktu ibadah, sehingga nilai ukhuwah semakin terasa,” ungkapnya.
Sementara itu, khutbah Idulfitri disampaikan oleh Dr. M. Arif Budiman, S.Ag, MEI dengan tema “Fitrah yang Membebaskan: Menghindari Israf dan Tabdzir di Tengah Ujian Zaman”. Dalam khutbahnya, jemaah diajak untuk memahami Idulfitri sebagai momentum kembali kepada fitrah, yakni kondisi manusia yang bersih, jujur, dan seimbang.
Suasana pelaksanaan Salat Id tampak semarak namun tetap tertib. Jamaah dari berbagai kalangan memadati lokasi sejak pagi hari, mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat. Kumandang takbir yang menggema menambah nuansa spiritual yang mendalam.
Dalam isi khutbah, khatib menekankan pentingnya mengendalikan diri dari sikap berlebihan (israf) dan pemborosan (tabdzir), terutama di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Ia menjelaskan bahwa berbagai krisis yang terjadi saat ini, baik dalam bidang ekonomi, sosial, lingkungan, maupun global, tidak terlepas dari perilaku manusia yang cenderung berlebihan dan kurang mampu mengendalikan hawa nafsu.
Khatib juga menguraikan bahwa dalam bidang ekonomi, sifat serakah dapat memicu praktik tidak jujur seperti penipuan dan korupsi. Dalam kehidupan sosial, gaya hidup konsumtif memperlebar kesenjangan, sementara dalam aspek lingkungan, eksploitasi berlebihan menyebabkan kerusakan alam dan bencana.
Sebagai solusi, jamaah diajak kembali kepada ajaran Islam yang menekankan keseimbangan hidup. Kesadaran bahwa harta adalah amanah, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membiasakan hidup sederhana menjadi kunci utama. Nilai qana’ah dan semangat berbagi melalui sedekah juga ditekankan sebagai benteng dari sikap berlebihan.
Di tengah maraknya budaya konsumtif dan fenomena pamer di media sosial, khutbah ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada materi, melainkan pada ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah SWT. Orientasi akhirat pun ditegaskan sebagai landasan dalam menjalani kehidupan dunia.
Momentum Shalat Idulfitri ini menjadi refleksi bersama bagi umat Islam untuk mempertahankan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup sederhana, jujur, peduli terhadap sesama, serta menjaga lingkungan menjadi pesan utama yang diharapkan terus terjaga.
Usai pelaksanaan Shalat Id, suasana hangat penuh kebersamaan terlihat ketika jamaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Momen tersebut menjadi simbol kembalinya manusia kepada fitrah, dengan hati yang bersih dan harapan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik (lpcrpm-bjm).
