Pesan Reflektif untuk Kader Ortom dan Pekerja AUM Tentang Seragam, Jabatan, dan Kesetiaan pada Nurani

Pesan Reflektif untuk Kader Ortom dan Pekerja AUM Tentang Seragam, Jabatan, dan Kesetiaan pada Nurani
*) Oleh : Syahrul Ramadhan, S.H., M.Kn., CLA.
Sekretaris LBH AP PDM Lumajang
www.majelistabligh.id -

Menjadi kader Muhammadiyah, baik yang aktif di Ortom maupun yang mengabdi di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)  adalah pilihan ideologis dan moral, bukan sekadar peran administratif atau profesi.

Di titik ini, kita perlu jujur bercermin:

Sering kali seragam, SK, dan jabatan struktural lebih didengar daripada suara nurani. Pendapat dianggap benar karena posisi, bukan karena nilai. Kritik dianggap gangguan karena tidak berasal dari struktur, bukan karena salah atau benar isinya.

Padahal dalam Islam, jabatan adalah amanah, bukan kemuliaan. Ia bukan alat pembenaran, tetapi beban pertanggungjawaban. Dan dalam Muhammadiyah, struktur seharusnya melayani nilai, bukan sebaliknya.

Bekerja di AUM: Lebih dari Sekadar Profesionalisme

Bekerja di sekolah, kampus, rumah sakit, atau lembaga AUM bukan hanya soal kinerja dan loyalitas institusi. Ia adalah ibadah dan dakwah bil hal. Profesionalisme memang wajib, tetapi nurani dan kejujuran tidak boleh dikorbankan demi rasa aman struktural.

AUM akan kehilangan ruh jika hanya berjalan sebagai institusi formal, namun lupa pada nilai Islam dan spirit tajdid yang melahirkannya.

Ber-Ortom: Ruang Kaderisasi, Bukan Panggung Atribut

Aktivitas di Ortom bukan perlombaan jabatan atau simbol. Ia adalah ruang latihan keikhlasan, keberanian moral, dan kepekaan sosial. Ketika kader lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga nilai, maka kaderisasi berubah menjadi rutinitas tanpa ruh.

  1. Ahmad Dahlan tidak mendidik muridnya agar “aman di struktur”, tetapi agar berani benar, meski sendirian.

Taat pada Nilai, Setia pada Nurani

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.

Dalam konteks Ortom dan AUM, ini berarti:

Loyal pada Persyarikatan, tanpa mematikan akal sehat,

Taat pada pimpinan, tanpa mengubur nurani,

Menjaga adab, tanpa kehilangan keberanian moral.

Menghidupkan Muhammadiyah dari Dalam

Seragam bisa dilepas. Jabatan akan berganti. Kontrak kerja bisa berakhir.Namun nilai, integritas, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah akan tetap melekat.

Muhammadiyah tidak hidup karena struktur semata, tetapi karena kader dan pekerja yang jujur, berani, dan ikhlas menjaga nilai di mana pun mereka berada.

Semoga kita menjadi insan Muhammadiyah yang: profesional tanpa kehilangan nurani, Loyal tanpa membungkam kebenaran,Dan berkhidmat tanpa memuja atribut.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search