Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren tidak boleh sekadar menjadi pencetak orang berilmu (alim), melainkan harus mampu melahirkan cendekiawan arif yang mengamalkan pengetahuannya serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan mendalam tersebut disampaikan Menag saat memberikan Tausiyah Kebangsaan di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik, Jawa Timur.
Di hadapan ribuan santri, Nasaruddin membedakan tingkatan antara sosok alim, intelektual, dan cendekiawan. Menurutnya, orang alim adalah mereka yang menguasai ilmu, sementara intelektual mampu menerapkannya. Adapun cendekiawan arif menggabungkan keduanya sekaligus menebar maslahat bagi sesama.
“Orang alim yang berkarakter intelek dan ilmunya dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat, itulah cendekiawan arif. Semua orang arif pasti alim, tetapi tidak semua orang alim itu arif. Yang kita cari di pesantren ini adalah kearifan,” tegas Menag.
Ia menilai, pesantren memiliki keunggulan strategis yang tidak dimiliki lembaga pendidikan umum, yakni keterpaduan antara kecerdasan intelektual, kebersihan hati, dan kedalaman spiritual.
Dahulukan Penyucian Hati (Tazkiyah)
Nasaruddin menjelaskan, tradisi pendidikan pesantren memadukan ilmu hushuli (pengetahuan berbasis penalaran rasional) dengan ilmu hudhuri (pengetahuan berbasis pengalaman dan penghayatan batin). Dalam prosesnya, penyucian jiwa (tazkiyah) harus selalu mendahului pengajaran (ta’lim).
“Al-Qur’an menegaskan wa yuzakkihim wa yu’allimuhum—pembersihan batin dulu, baru pengajaran. Jika dada kita seluas samudra karena batin yang bersih, maka seluas lautan pula ilmu yang mampu ditampung. Di pesantren, kalian tidak hanya dilatih mengerahkan nalar, tetapi juga mengasah kekuatan rohani untuk meraih makrifat dan hikmah,” jelasnya.
Model pendidikan terpadu ini diakui oleh pihak pesantren. Putra pengasuh sekaligus Rektor UNKAFA Gresik, Muhammad Majduddin, menyampaikan bahwa sejak didirikan oleh KH. Masbuhin Faqih pada 1981, Ponpes Mambaus Sholihin konsisten mengawinkan kedalaman ilmu dan spiritualitas.
Ia memaparkan, kurikulum pesantrennya memadukan kajian kitab kuning (turots) ala Pesantren Langitan, kedisiplinan bahasa internasional ala Pondok Modern Gontor, serta bimbingan tarekat dari KH. Utsman Al-Ishaqi.
“Kami memadukan nalar kajian turots seperti Alfiyah dan Ushul Fiqh dengan riyadhah batin. Ini adalah ikhtiar bersama pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara lahir dan batin,” ujar Majduddin. (*/tim)
