Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur menyelenggarakan Kajian Ramadan sekaligus konsolidasi organisasi melalui Zoom Meeting, akhir Maret 2025. Acara ini dimulai pukul 20.15 WIB dan mengangkat tema Milad IMM ke-61: “Merawat IMM, Memajukan Indonesia.”
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag, M A, Ketua Umum DPP IMM periode 2001–2003 yang kini menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan. Dalam paparannya, Ketua STIQSI Lamongan itu menekankan pentingnya merawat IMM melalui penguatan dua aspek utama: logis dan logistik.
“Logis berkaitan dengan budaya intelektual, sementara logistik menyangkut fasilitas penunjang kesuksesan organisasi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa momentum Milad IMM harus disyukuri melalui kontribusi nyata dalam gerakan IMM.
Lebih lanjut, Dr. Piet mengupas makna filosofis kata “Ikatan” dalam IMM. Ia menegaskan bahwa ikatan sejati adalah menyatukan pikiran, jasmani, dan hati dengan landasan Al-Qur’an. Spirit intelektual IMM menurutnya bersumber dari Surat Al-‘Alaq ayat 1–5 dan spirit perkaderan dari Surat Ali Imran ayat 104 dan 110—yang menekankan pentingnya mencetak generasi unggul.
“Merawat IMM harus dimulai dari kurikulum yang jelas. Dan kurikulum terbaik adalah Al-Qur’an,” tegasnya.
Ia menyebutkan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan pendekatan ilmu, agar gerakan IMM memiliki dasar yang kokoh, berbasis pada dialog dan diskusi ilmiah.
Menurut Dr. Piet, religiusitas dalam IMM pun harus berbasis keilmuan. Perspektif ilmu tidak boleh parsial, melainkan harus mampu menjangkau berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, dan sosial.
Dengan demikian, merawat IMM berarti menggelorakan tradisi keilmuan—gerakan yang berpijak pada ilmu, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Ia mendorong agar IMM aktif dalam kajian-kajian mendalam yang diwujudkan dalam bentuk narasi tulisan, kegiatan nyata, maupun dialektika keilmuan.
Menyinggung ayat pertama dalam Al-Qur’an yang diturunkan, yaitu Iqra’, Dr. Piet menekankan bahwa membaca dalam konteks ini bukan hanya membaca teks, tetapi membaca dengan menyebut nama Allah—yang akan melahirkan pengetahuan dan membangkitkan semangat intelektualitas serta nilai-nilai kemanusiaan.
“Ayat Allah bukan hanya ayat qauliyah (tertulis), tetapi juga ayat kauniyah (yang terhampar di alam). KH Ahmad Dahlan telah memberi teladan dalam membaca keduanya dan mewujudkannya dalam gerakan nyata,” tuturnya.
Ukuran Merawat IMM: Karya Tulis dan Karya Sosial
Lebih lanjut, Dr. Piet menegaskan bahwa keberhasilan dalam merawat IMM harus terukur. Minimal, terdapat dua bentuk karya: karya tulis seperti opini, buku, atau jurnal; dan karya sosial, berupa aksi nyata seperti pendirian Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), gerakan sosial, usaha produktif, atau organisasi pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, perlu adanya dialektika keilmuan dan dialektika gerakan secara berimbang. Ia juga menekankan pentingnya branding organisasi melalui figur tokoh, profesionalisme, dan pengembangan kelembagaan agar IMM dapat bersaing secara sehat di ruang publik.
Sebagai penutup, Dr. Piet Hizbullah menyampaikan bahwa puncak dari upaya merawat IMM adalah membangun Indonesia. Hal ini hanya bisa dicapai melalui kader-kader yang unggul, memiliki integritas, serta menguasai ilmu dan agama secara seimbang.
“IMM harus mampu mencetak kader umat dan bangsa yang siap membangun negeri melalui kurikulum perkaderan yang moderat, religius, dan menghasilkan karya nyata,” pungkasnya. (moch.muzaki)
