Pimpinan Sekolah Muhammadiyah Harus Punya Mimpi Besar

Ditjen PAUD, Dikdas, dan PNFI Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto.
www.majelistabligh.id -

Rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sekolah/Madrasah Unggul Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi berakhir pada Rabu (30/09/2026).

Penutupan gelaran akbar yang berlangsung selama tiga hari (28–30 September 2026) ini ditandai dengan seremoni penuh semangat transformasi di SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Sebelumnya, agenda utama Rakornas dipusatkan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPV BisPar), Parung, Depok. Pemilihan lokasi penutupan yang berbeda di Cibinong dilakukan secara sengaja sebagai bentuk studi lapangan visual bagi para pengelola pendidikan Muhammadiyah dari seluruh penjuru tanah air.

SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Cibinong, Kabupaten Bogor.
SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Secara resmi, kegiatan ini ditutup oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD, Dikdas, dan PNFI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D. Dalam amanatnya, Gogot menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa berbanding lurus dengan kualitas investasi pada sumber daya manusianya.

“Pendidikan merupakan kebutuhan strategis untuk memajukan bangsa dan negara. Negara-negara maju selalu meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui pendidikan. Jika ingin Indonesia menjadi maju, maka tidak ada pilihan lain kecuali memajukan pendidikan,” tegas Gogot di hadapan ratusan peserta Rakornas.

Ia meyakini bahwa jajaran pendidik serta pengelola sekolah Muhammadiyah memiliki kapasitas intelektual dan kepemimpinan yang mumpuni untuk membawa sekolah-sekolah Muhammadiyah melompat lebih tinggi.

“Mari kita bermimpi, berkreasi, dan berkolaborasi setelah pulang ke daerah masing-masing. Carilah terobosan-terobosan baru dan peluang-peluang besar untuk memajukan pendidikan Muhammadiyah. Saya yakin dan percaya Bapak dan Ibu adalah orang-orang hebat yang luar biasa,” tambahnya memberi motivasi.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D., membeberkan alasan strategis di balik pemilihan lokasi penutupan di SMA Kemala Taruna Bhayangkara. Menurutnya, sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 13 hektare tersebut merupakan representasi nyata dari visi pendidikan modern masa depan. Sekolah ini dilengkapi fasilitas penunjang kepemimpinan yang komprehensif, menerapkan kurikulum berstandar internasional, serta memiliki target meluluskan siswa yang mampu menembus 100 perguruan tinggi terbaik dunia.

Didik mendorong para Kepala Sekolah dan Pengurus Majelis Dikdasmen daerah untuk berani mengadopsi langkah-langkah progresif melalui metode Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM).

“Mengapa penutupan ini kita lakukan di SMA Kemala Taruna Bhayangkara? Kami ingin Bapak dan Ibu bisa meniru apa yang ada di sini. Mulailah dengan bermimpi mencari lahan, meningkatkan SDM, dan membangun jaringan. Semua itu bisa diawali dengan mimpi besar dan melakukan perubahan nyata di sekolah kita masing-masing,” ujar Didik penuh optimistis.

Melalui penutupan Rakornas ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah mempertegas komitmennya untuk tidak sekadar mempertahankan kuantitas lembaga pendidikan yang ada, tetapi mendorong akselerasi mutu secara merata.

Diharapkan, sekembalinya para peserta ke daerah asal, benih-benih inovasi, kolaborasi lintas lembaga, serta mimpi besar membangun sekolah unggulan dapat segera direalisasikan demi mencetak generasi emas Indonesia. || sholihin fanani

 

Tinggalkan Balasan

Search