Puluhan siswa SMK Muhammadiyah (SMKM) 12 Sekaran Lamongan tampak khidmat mengikuti agenda Pondok Ramadan yang dipusatkan di Aula madrasah setempat, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan tahunan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas akhlak dan ibadah pelajar di tengah gempuran arus digital yang kian masif.
Suasana di aula terasa santai namun tetap fokus. Mengawali sesi materi, para siswa diajak melakukan refleksi jujur melalui pertanyaan pemantik mengenai kebiasaan penggunaan gawai sehari-hari, seperti durasi menatap layar hingga kecenderungan membuka HP sebelum menunaikan salat Subuh. Hal ini dilakukan untuk membangun kesadaran awal bahwa teknologi seharusnya menjadi alat, bukan pengendali diri manusia.
Hadir sebagai narasumber, Sekretaris Umum Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Lamongan, As’ad Fauzuddin Khunaifi, menekankan bahwa persoalan negatif di dunia maya, seperti cyberbullying dan penyebaran hoaks, bukanlah sekadar masalah teknologi, melainkan masalah karakter atau akhlak.
Ia mengingatkan para siswa bahwa satu komentar jahat atau body shaming secara online memiliki dampak nyata bagi korban, mulai dari gangguan kecemasan hingga trauma mendalam.
Menurutnya, akhlak adalah sistem kendali utama atau “rem” yang berasal dari dalam diri sendiri untuk menyaring setiap tindakan di dunia digital.
“Akhlak adalah sistem kendali utama kita di dunia digital. Ia adalah rem yang berasal dari dalam diri kita sendiri,” ungkap pemateri saat menjelaskan pentingnya konsep muraqabah atau rasa diawasi oleh Allah dalam setiap aktivitas digital.
Selain isu perundungan, materi juga menyasar pada fenomena post-truth dan hoaks yang mudah memancing emosi impulsif pelajar. Para siswa dibekali dengan prinsip Tabayyun sebagaimana tuntunan QS Al-Hujurat ayat 6, serta diperkenalkan dengan filter empat pertanyaan sebelum menekan tombol share: Apakah informasi tersebut benar, baik, perlu, dan apa dampaknya jika disebarkan.
Sebagai solusi konkret, ibadah rutin seperti shalat lima waktu, tadarus, dan puasa Ramadan diposisikan sebagai benteng terkuat karakter. Ibadah-ibadah tersebut dijelaskan mampu melatih pengendalian diri (self-control) dan menjernihkan pikiran agar tidak mudah terprovokasi oleh konten negatif.
Kegiatan ditutup dengan aajakan untuk memperbaiki kebiasaan bermedia sosial selama bulan Ramadan. Melalui Pondok Ramadan ini, SMKM 12 Sekaran berharap para siswa mampu mensyukuri nikmat teknologi dengan menggunakannya sesuai koridor akhlak Islam, sehingga mereka yang memegang kendali atas gawai mereka, bukan sebaliknya. (muhammad afif fakhruddin)
