PRM UM Gelar PMB II: Gabungkan Etika Produktivitas dan Kesehatan Mulut sebagai Ibadah

PRM UM Gelar PMB II: Gabungkan Etika Produktivitas dan Kesehatan Mulut sebagai Ibadah
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan Program Matahari Bersinar (PMB) edisi kedua dengan tema sentral efisiensi, efektivitas, dan produktivitas, Ahad (7/9/2025). Kegiatan yang dipusatkan di kediaman Sekretaris PRM UM, Rudi Nurdiansyah, ST, MT, Ph.D menghadirkan kajian praktis yang mengaitkan nilai-nilai Islam dengan perilaku sehari-hari sivitas akademika, sekaligus sesi kesehatan gigi dan mulut oleh dokter gigi Amalia Kautsaria.

Dalam pembukaan kajian, Rudi memaparkan perbedaan konsep efisiensi, efektivitas, dan produktivitas secara sistematis, serta menekankan penerapan nilai agama dalam kebiasaan sehari-hari. Menurut Rudi, efisiensi berarti memanfaatkan sumber daya seperti makanan, waktu, energi, dan tenaga tanpa mubazir.

“Efisiensi berarti memanfaatkan makanan, waktu, energi, dan tenaga tanpa mubazir; pemborosan justru mendekatkan kita pada sifat syaitan,” tuturnya, seraya memberi contoh konkret seperti mengambil porsi berlebih di All You Can Eat atau meninggalkan lampu dan AC menyala di ruang kelas.

PRM UM Gelar PMB II: Gabungkan Etika Produktivitas dan Kesehatan Mulut sebagai Ibadah
dr. Amalia Kautsaria saat menyampaikan kajian kesehatan gigi dan mulut bersama Sekretaris PRM UM, Rudi Nurdiansyah, ST, MT, Ph.D. (ist)

Rudi juga menyoroti aspek efektivitas dan kejujuran akademik. “Shalat selama kurang lebih lima menit dengan khusyuk lebih bermakna daripada shalat lama yang ditunda-tunda,” ujarnya untuk menggambarkan pentingnya melakukan sesuatu dengan tepat sasaran.

Selain itu, Ia mengkritik masih banyaknya praktik manipulasi data-data penelitian sembari menegaskan bahwa bertindak jujur akan lebih efektif dan membawa berkah.

Sebagai langkah praktis, Rudi mengajak para peserta untuk menjalankan sesuatu yang sederhana namun berdampak, seperti menghemat makanan, tidak berlebihan mengonsumsi air, mengelola waktu tanpa kecanduan media sosial dan menanamkan prinsip itqan — bekerja dengan tepat dan berkualitas — sebagai fondasi produktivitas yang bernilai.

Sesi berikutnya dibawakan dr. Amalia Kautsaria yang mengaitkan kebersihan mulut dengan kualitas ibadah.

“Kebersihan mulut itu memuliakan ibadah. Kalau mulut bersih dan tidak ada keluhan, ibadah akan lebih khusyuk. Menjaga gigi juga berarti menjaga amanah tubuh yang Allah karuniakan,” jelasnya.

Amalia menjabarkan tiga manfaat utama: membantu proses mengunyah, mencegah bau mulut dan infeksi, serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan (mengutip hubungan antara infeksi mulut dan penyakit sistemik seperti penyakit jantung).

Ia merekomendasikan praktik sederhana: berkumur saat wudhu, menyikat gigi dua kali sehari (pagi dan malam), pemeriksaan gigi tiap enam bulan sekali, memilih sikat berkepala kecil, menggunakan pasta gigi ber-fluoride, dan mengurangi konsumsi makanan manis.

Kegiatan ini relevan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals, antara lain SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi), dan SDG 12 (Konsumsi & Produksi yang Bertanggung jawab), karena menghubungkan perilaku pribadi dengan keberlanjutan dan manfaat sosial.

Menutup acara, Rudi mengajak peserta berdoa agar kader-kader Muhammadiyah menjadi pribadi yang efisien, efektif, dan produktif sesuai syariat—tidak sekadar berdaya, tetapi memberi berkah bagi lingkungan dan sesama. (salmanudin hafizh)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search