Problematika Klasifikasi Generasi dan Sentimen Horizontal

Problematika Klasifikasi Generasi dan Sentimen Horizontal
*) Oleh : Agus Santosa P
PDTS 166 Grobogan Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Pada dasarnya, semua manusia sama dari generasi ke generasi. Yang berubah adalah konteks zamannya, bukan hakikat kemanusiaannya. Karena itu, patut dipertanyakan untuk apa klasifikasi dan istilah generasi jika yang dihasilkannya justru menjadi jurang pemisah antarmanusia.

Generasi tua kerap merasa lebih tangguh lalu menilai generasi setelahnya lemah, sementara yang muda merasa lebih maju dan memandang generasi sebelumnya kuno. Pola saling merendahkan ini tidak melahirkan pemahaman, melainkan sentimen yang tidak produktif. Ia miskin empati dan bertentangan dengan nilai nilai Islam serta semangat kebangsaan yang menjunjung kesinambungan, bukan pemutusan.

Dalam Islam, manusia tidak dinilai berdasarkan usia, masa lahir, atau label sosial, melainkan berdasarkan amal, akhlak, dan tanggung jawab. Al Qur’an tidak pernah membagi manusia ke dalam generasi unggul dan generasi gagal berdasarkan zamannya, tetapi berdasarkan sikap dan perbuatannya.

Pergantian generasi dipahami sebagai amanah, bukan kompetisi superioritas. Setiap generasi memiliki peran dan tanggung jawabnya masing masing.

Klasifikasi generasi menjadi problematik ketika ia diseret ke wilayah moral. Pengalaman hidup dijadikan legitimasi untuk merendahkan, sementara kebaruan dipakai sebagai alasan untuk menafikan hikmah. Padahal Islam menempatkan relasi lintas usia dalam bingkai taawun saling menolong dan saling melengkapi bukan saling menegasikan.

Dari sudut pandang kebangsaan, sentimen antargenerasi merupakan ancaman laten bagi keberlanjutan sosial. Bangsa tidak dibangun oleh satu generasi saja, melainkan oleh mata rantai sejarah yang saling terhubung. Ketika dialog terhenti, solidaritas melemah. Padahal, kemajuan bangsa lahir dari saling belajar, bukan saling menutup diri.

Lebih jauh, konflik antargenerasi sering kali menutupi persoalan yang lebih mendasar, seperti ketimpangan, kegagalan kebijakan, dan lemahnya keadilan sosial. Narasi generasi lemah atau generasi kuno kerap mengalihkan kritik dari sistem ke sesama warga, sehingga konflik vertikal berubah menjadi konflik horizontal.

Islam dan kebangsaan Indonesia sama sama menekankan kesinambungan nilai. Yang tua berkewajiban memberi teladan, bukan sekadar tuntutan. Yang muda berkewajiban berinovasi dengan adab, bukan dengan arogansi. Tidak ada generasi yang berdiri sendiri, setiap generasi adalah penerus sekaligus penjaga amanah.

Karena itu, urgensi kita hari ini bukan memperkuat klasifikasi generasi, melainkan memperkuat etika relasi antarmanusia. Selama istilah dan label hanya melahirkan sentimen yang tidak produktif, manfaatnya layak dipertanyakan. Sebab, kemajuan, baik dalam Islam maupun dalam kehidupan berbangsa, tidak ditentukan oleh usia atau zaman, melainkan oleh kemampuan menjaga nilai dan bertanggung jawab atas masa depan bersama. (*)

Tinggalkan Balasan

Search