Prof. Suyanto: Sekolah Muhammadiyah Harus Sukses, Dimulai dari Mindset yang Benar

Prof. Suyanto: Sekolah Muhammadiyah Harus Sukses, Dimulai dari Mindset yang Benar
www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, Prof. Suyanto, menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah harus menjadi institusi yang sukses. Menurutnya, kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh pola pikir atau mindset.

“Orang yang sukses adalah orang yang mindset-nya benar. Kalau mindset benar maka langkah akan benar. Mindset salah maka tindakan salah, maka yang terjadi adalah kegagalan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto menjelaskan bahwa mindset merupakan kumpulan kepercayaan yang akan menentukan reaksi dan cara seseorang memaknai situasi.

“Dalam pembelajaran mendalam akan menuntut growth mindset. Karena di dalam pembelajaran mendalam ada tantangan-tantangan,” ujar Prof. Suyanto saat menyampaikan materi dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pembelajaran Mendalam Koding Kecerdasan Artifisial dan Penguatan Pendidikan Karakter untuk Region Jawa Timur 1.

Materi yang disampaikan melalui Zoom pada Rabu malam (10/9/2025) itu juga diikuti oleh peserta Bimtek dari region Kalimantan Barat dan Jawa Barat.

“Kita perlu mindset yang bertumbuh untuk pembelajaran yang mendalam. Jika tidak bertumbuh mindset kita, maka tidak akan muncul yang namanya kebermaknaan, bergembira yang ada di pembelajaran mendalam,” imbuhnya.

Selama proses belajar diwarnai tantangan, kata Prof. Suyanto, otak kita akan diperkaya dengan pengetahuan. Namun jika tantangan dihindari, maka otak tidak akan berkembang.

Orang yang tidak memiliki pola pikir yang bertumbuh cenderung hanya bangga pada talenta dan takdir, serta mudah menghindar dari tantangan. Ketika gagal, mereka menyerah dan berkata “ini takdir”, tanpa semangat untuk mencoba kembali.

“Orang yang fixed mindset mengatakan talenta segala dan selalu harus terlihat pandai dan menganggap berbakat sejak lahir sehingga tidak mau berusaha. Orang yang fixed mindset menghindari tantangan agar terlihat tidak kurang pandai/cerdas,” tandasnya.

Lebih jauh, Prof. Suyanto menyebutkan bahwa dalam menghadapi rintangan, orang dengan fixed mindset akan mudah menyerah. Mereka menganggap usaha adalah kegiatan yang sia-sia karena semuanya sudah ditentukan oleh takdir.

“Takdir bagi orang fixed mindset adalah batasan setelah melakukan usaha, sehingga tidak mau untuk mencoba lagi dan berjuang,” jelasnya.

Salah satu ciri lain dari orang dengan fixed mindset, lanjutnya, adalah sikap negatif terhadap kritik. Mereka menganggap kritik sebagai serangan pribadi yang harus ditolak.

“Padahal orang yang anti kritik, pasti sekolahnya tidak akan maju. Bahkan kesuksesan orang lain dianggap sebagai ancaman dan hanya bersifat keberuntungan,” tegasnya.

Sebaliknya, Prof. Suyanto menjelaskan bahwa orang dengan growth mindset memiliki karakter yang mau belajar, berusaha, dan tidak mudah menyerah. Mereka meyakini bahwa kecerdasan bukan berasal dari talenta semata, tetapi merupakan hasil dari proses belajar dan perjuangan.

“Belajar apa saja akan dilakukan untuk membangun sekolah. Orang yang growth mindset, tantangan diterima sebagai sarana untuk berlatih dalam menghadapi rintangan. Mereka akan bertahan dan berusaha untuk mengatasinya,” paparnya.

Menurut Prof. Suyanto, orang-orang Muhammadiyah sejatinya memiliki sifat growth mindset. Mereka terus berusaha dan bertahan dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Mereka orang-orang yang memiliki growth mindset. Dalam usaha dan upaya adalah wajib dilakukan untuk mengembangkan keterampilan agar tercapai usaha yang dicita-citakan,” ucapnya.

Ia juga mengajak warga Muhammadiyah untuk menjadikan kritik sebagai sumber informasi dan peluang perbaikan. Sementara itu, kesuksesan orang lain seharusnya dilihat sebagai inspirasi dan bahan pembelajaran.

“Begitu pun dalam pembelajaran mendalam, unsur kemitraan sangat penting sehingga kita bisa merefleksi dari proses pembelajaran di sekolah kita dan perlu belajar dari sekolah-sekolah yang sudah besar,” pungkasnya. (msf)

Tinggalkan Balasan

Search