Suasana kelas menjadi gaduh ketika dua orang memasuki ruang kelas 1-CPP 1 SD Muhammadiyah 6 (Musix) Gadung Surabaya, Kamis (11/9/2025). Apalagi dua orang tersebut membawa sebuah box besar, anak-anak makin penasaran.
“Ustdzah, dalam kotak besar itu apa isinya?” Anak-anak penasaran.
“Oke, sabar dulu ya, nanti kalian akan tahu isinya,” jelas Rizki Handayani singkat sambil menenangkan anak-anak.
Itulah suasana Program Orang Tua Mengajar (OTM) di sekolah di Jalan Gadung Wonokromo Surabaya itu. Kali ini jadwalnya edukasi pengenalan profesi dan peran apoteker, sekaligus praktik meracik obat kepada siswa kelas 1-ICP 1 .
Tidak lama kemudian, seorang ibu yang akan menjadi nara sumber tidak adalah orang tua Radea Aisha Handoyo ini tampil di depan kelas. Dengan senyumannya yang khas, ia mulai menyapa anak-anak yang sangat aktif.
Berbusana atasan biru dengan setelan celana hitam dipadu dengan kerudung warna hitam, tampil di depan bocil-bocil yang lagi penasaran.
“Anak-abak pernah minum obat? ” sapa Citra, panggilan akrab Citra Riptia Ningtias, S.Farm, Gr. mengawali materinya.
“Pernah…..!” Jawab anak-anak serempak
“Nah, hari ini kita akan meracik obat menjadi kapsul agar mudah di telan pasien” Sambungnya.
Selanjutnya, apoteker yang mengabdikan diri sebagai guru di SMK Kesehatan yang berada di kawasan Sidoarjo ini menjelaskan bahwa obat yang diminum para penderita tidak lepas dari jasa para apoteker.
Dia menyampaiakan materi dengan lancar, sekalipun yang dihadapi anak-anak SD dia tidak merasakan canggung, walaupun kadang bicaranya harus berhenti untuk memenangkan anak-anak.
Baginya, mengajar siswa SD bukan pekerjaan yang mudah.
“Saya mengagumi para guru TK dan SD. Mereka bisa mengajar dengan penuh energi,” akunya.
Siswa SMK, lanjutnya, bisa duduk tenang saat mendengarkan penjelasan, tapi anak-anak SD perubahan dinamika kelasnya sangat cepat.
“Saya harus bisa menyederhanakan proses pembelajaran, menarik perhatian mereka, dan beradaptasi dengan perubahan skenario pembelajaran di dalam kelas. Mengajar hari ini bukan hanya ‘mengajari’ anak-anak saja, tapi juga proses belajar bagi saya untuk lebih sabar, lebih fleksibel, dan menyesuaikan cara menyampaikan pengetahuan saya sesuai dengan level mereka,” tuturnya.
Dengan penuh semangat, wanita yang juga sebagai Guru Penggerak ini mulai mangajak para audiennya untuk praktik meracik obat.
“Setelah ini, anak-anak mau saya ajak meracik obat?” ajak Citra.
“Mau Bunda!” jawabnya antusias
Tidak lama kemudian dia membagikan seperangkat alat pelindung diri. Diantaranya adalah sarung tangan karet warna abu-abu, masker, dan Nurse Cap atau Hair Cap Net (pelindung kepala )
“Ustadzah saya tidak bisa memasang ini,” seru Prabu Abqary Zaflan Purnomo kelas 1 ICP-1 sambil menyerahkan sarung tangan.
“Kalau aku sudah bisa ustadzah, tapi aku tidak bisa membuka ini,” sahut Muhammad Zain Danish Baihaqqi sambil menyerahkan pelindung kepala
“Okay. I’ll help everyone, but you all have to be orderly,” balas Riski.
Setelah semua memakai alat pelindung diri, guru yang telah melalui PPG ini membagikan satu mangkuk beserta pemukulnya yang terbuat dari keramik itu kepada setiap empat anak.
Kemudian dia juga membagikan bebeapa butir obat berbentuk tablet warna putih dan pink. Anak-anak sangat antusias praktek.
“Please grind this tablet until it is smooth, okay?,” perintahnya sambil memberikan contoh menggerusnya.
Tidak makan waktu lama, mereka sudah bisa menghaluskan obat itu menjadi tepung. Suasana kelas berubah menjadi ruang kerja peracik obat.
Kemudian dia membagikan kapsul kosong dan alat pengisi kapsul manual dan juga memberikan tutorial cara mengisikan bubuk obat ke dalam kapsul.
“Masukkan bubuk obat ini menggunakan sendok dengan hati-hati, setelah itu tutup kembali, ya!” Jelasnya
“Begini, ya ustadzah” tanya Rania Farrazida Sitompul
“Betul, kamu anak hebat,” sahut Riski sambil angkat jempalnya.
Setelah kapsul-kapsul itu selesai terisi bubuk obat, Citra memasukkan dalam kemasan plastik. Setiap kemasan diisi dua butir kapsul untuk dibawa pulang.
“Anak-anak hebat, kapsul yang kamu buat sendiri ini nanti tunjukkan sama ayah-nunda di rumah ya!”
Program OTM perdana di kelas ini, Citra termotivasi untuk mengenalkan peran apoteker sebagai profesi yang bertanggung jawab memastikan obat yang dikonsumsi aman dan efektif.
“Di samping itu saya ingin memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan menarik kepada anak-anak hebat,” katanya.
Singkatnya, lanjutnya, motivasi saya adalah memadukan peran saya sebagai wali murid, guru, dan apoteker untuk menciptakan generasi yang lebih sadar akan kesehatan dan menghargai peran penting setiap profesi yang menjaganya. Ini adalah kesempatan unik untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan cara yang tulus, dari hati seorang ibu yang peduli. (basirun)
