Tidak semua sakit di lambung berasal dari makanan. Dan tidak semua asam yang naik bisa diturunkan dengan obat.
Kadang, yang sebenarnya sedang memberontak bukan lambung. Tapi hati.
Kita sering mendengar orang berkata, “Saya sudah jaga makan, tapi tetap kambuh.” Nada suaranya bukan marah—lebih ke lelah. Seolah tubuhnya tidak mau lagi diajak kompromi. Padahal, pemeriksaan medis sering menunjukkan hasil yang “relatif baik”. Tidak ada luka besar. Tidak ada kerusakan fatal. Tapi nyeri itu nyata. Perihnya sungguh ada.
Di titik ini, psikologi memberi satu kata penting: psikosomatis.
Psikosomatis bukan berarti penyakitnya “tidak nyata”. Justru sebaliknya. Ia sangat nyata. Hanya saja, sumber tekanannya bukan hanya dari organ, melainkan dari konflik batin yang terlalu lama disimpan. Dan salah satu konflik batin paling berat yang bisa ditanggung manusia adalah rasa bersalah yang tidak diselesaikan.
Al-Qur’an sebenarnya sudah lama mengingatkan bahwa dosa bukan hanya urusan akhirat. Ia meninggalkan bekas di dalam diri manusia. Allah berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (darinya).”
(QS Asy-Syura: 30)
Ayat ini tidak sedang menuduh. Ia mengajak merenung. Bahwa ada hubungan kuat antara apa yang kita lakukan, apa yang kita simpan di hati, dan apa yang akhirnya dirasakan oleh tubuh.
Lambung adalah organ yang sangat peka terhadap kondisi emosi. Saat seseorang hidup dalam kecemasan terus-menerus—takut ketahuan, takut kehilangan, takut pada konsekuensi—sistem saraf tidak pernah benar-benar tenang. Asam lambung meningkat. Otot pencernaan menegang. Tidur terganggu. Tubuh hidup dalam mode siaga.
Cemas adalah pemicunya.
Rasa bersalah sering menjadi bahan bakarnya.
Rasa bersalah yang lahir dari dosa—terutama dosa yang disadari—menciptakan konflik batin yang dalam. Ada suara kecil di dalam diri yang berkata, “Aku tahu ini salah.” Tapi suara itu ditekan. Diabaikan. Dibiarkan menggema tanpa penyelesaian.
Dan tubuh tidak suka konflik yang digantung.
Gelisah. Kata itu sangat tepat. Gelisah bukan hanya soal pikiran. Ia menjalar ke tubuh. Menjadi dada sesak. Menjadi perut perih. Menjadi GERD yang kambuh setiap malam ketika dunia mulai sunyi dan pikiran tak lagi bisa lari.
Banyak penderita dispepsia dan GERD psikosomatik mengatakan hal yang sama: gejala memburuk saat sendirian, saat malam, atau setelah momen refleksi. Siang hari mereka bisa tampak baik-baik saja. Tapi malam hari, tubuh mulai berbicara.
Seolah ada sesuatu yang ingin diakui.
Allah juga mengingatkan bahwa ketenangan batin bukan datang dari pengalihan, tapi dari penyelarasan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan hati bukan konsep abstrak. Ia punya dampak fisiologis. Saat hati tenang, sistem saraf parasimpatik aktif. Pencernaan membaik. Asam lambung menurun. Tubuh masuk ke mode pemulihan. Inilah sebabnya mengapa banyak orang merasakan perbaikan gejala saat mereka benar-benar berdamai dengan diri dan Tuhannya.
Dalam konteks ini, psikosomatis dosa bukan berarti Allah menghukum lewat penyakit. Lebih tepat dikatakan bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam pertentangan batin yang berkepanjangan. Ketika hati tahu sesuatu salah, tapi hidup tetap berjalan ke arah itu, tubuh menjadi medan konflik terakhir.
Ia bersuara lewat sakit.
Dan menariknya, Islam tidak pernah menutup jalan keluar. Bahkan untuk orang yang merasa sudah terlalu jauh. Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS Az-Zumar: 53)
Secara psikologis, taubat adalah proses rekonsiliasi. Antara niat dan perilaku. Antara nurani dan tindakan. Ketika seseorang berhenti menyangkal, berhenti membenarkan, lalu mulai jujur—sering kali tubuh ikut berubah. Lambung lebih tenang. Tidur lebih nyenyak. Nyeri berkurang. Tidak instan. Tapi nyata.
Dispepsia dan GERD, pada banyak kasus, adalah bahasa tubuh. Bahasa dari jiwa yang terlalu lama diam. Terlalu lama menahan. Terlalu lama memikul rasa bersalah sendirian. Dan mungkin, di balik rasa perih itu, tubuh sedang berbisik lembut: “Sudah waktunya…………….” https://lynk.id/faridfi
