Kadang kita merenung lama—kenapa manusia begitu mudah jatuh ke lubang yang sama? Sudah menyesal, sudah janji pada diri sendiri, sudah coba menjauh… tapi entah kenapa, tetap kembali. Rasanya seperti ada magnet kecil di dalam jiwa yang menarik kita ke masa lalu.
Lucunya, sebagian orang bukan berdosa karena ingin menantang Tuhan. Tidak. Kadang mereka hanya ingin lepas sebentar dari tekanan hidup. Pelarian kecil. Sementara. Tapi pelarian itu justru membuka pintu yang membuat mereka makin tersesat. Seperti lingkaran setan—atau kalau dalam bahasa psikologi modern, feedback loop. Dan yang menyakitkan, lingkaran itu tumbuh dari kombinasi rasa bersalah, rasa takut, dan keinginan untuk merasa tenang walau sesaat.
Al-Qur’an pernah menggambarkan sifat manusia yang seperti ini mudah tergelincir, tapi tetap dicintai Tuhan ketika ia mau kembali. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS Al-Baqarah: 222)
Ayat ini selalu membuat kita berhenti sejenak. Allah tidak hanya menerima taubat, tapi mencintai. Seolah ingin mengingatkan bahwa dosa yang berulang bukan bukti seseorang tidak layak, tapi bukti bahwa ia sedang berjuang.
Kita punya seorang teman—sebut saja R. Ia berkali-kali menyesali kebiasaannya berjudi. Setiap selesai, ia menangis, salat, dan bersumpah untuk berhenti. Tapi ketika gajian datang, dorongan itu muncul lagi. Ia bilang, “Aku benci diriku, tapi kita nggak tahu kenapa tetap balik ke situ.” Saat itu, kita sadar betapa kerasnya pertempuran di dalam batin manusia.
Dosa memang melekat dalam diri manusia seperti sifat yang tidak akan hilang sepenuhnya. Bahkan Nabi ﷺ pernah bersabda:
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Kalimat itu begitu menenangkan—bukan untuk membenarkan dosa, tetapi untuk mengingatkan bahwa kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan. Yang penting adalah langkah setelahnya.
Secara psikologis, dosa yang diulang membentuk jalur kebiasaan dalam otak. Kalau setiap rasa sakit selalu ditutup dengan pelarian, otak belajar “Ini cara cepat untuk lega.” Dan akhirnya, meski tahu itu salah, seseorang tetap kembali karena otak sudah terlanjur menandainya sebagai jalan pintas emosional. Itulah feedback loop dalam bentuk paling kasat mata.
Yang lebih berbahaya bukan hanya dosanya, tapi bagaimana dosa perlahan membentuk cara seseorang memandang dirinya. Ada titik ketika seseorang merasa, “Kita memang sudah rusak,” dan keyakinan itu membuatnya menyerah. Itu titik paling gelap dari perjalanan spiritual manusia bukan ketika ia berdosa, tapi ketika ia berhenti percaya bahwa dirinya layak kembali pada Tuhan.
Padahal Allah sendiri mengatakan: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS Az-Zumar: 53)
Ada sesuatu yang bergerak di hati setiap kali membaca ayat ini. Rasanya seperti seseorang menarik tanganmu dari kegelapan dan berkata, “Kita masih di sini.”
Dan di sinilah kita mulai percaya bahwa lingkaran setan itu bisa retak. Bukan dengan kekuatan besar, tetapi dengan langkah yang sangat kecil. Kejujuran pada diri sendiri. Kadang, memaafkan diri sendiri lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Tapi justru dari sanalah pintu perubahan untuk bertaubat terbuka. https://lynk.id/faridfi
