Pernahkah kamu merasa dadamu sesak, padahal hasil pemeriksaan jantung menunjukkan semuanya normal? Atau perut terasa terbakar tiap kali sedang banyak pikiran, meski dokter bilang tak ada kelainan apa pun di lambungmu?
Dalam dunia medis, fenomena itu dikenal sebagai psikosomatis — penyakit yang berasal dari pikiran tapi dirasakan oleh tubuh. Dokter menyebutnya sebagai gangguan nyata, bukan pura-pura. Saat pikiran terus gelisah, tubuh ikut merespons dalam bentuk nyeri kepala, leher kaku, perut mulas, hingga jantung berdebar. Di sinilah batas antara jiwa dan raga menjadi kabur. Pikiran yang tak tenang bisa menular menjadi tubuh yang sakit.
Ilmu kedokteran modern menjelaskan bahwa stres dan kecemasan memicu hormon kortisol serta adrenalin yang membuat sistem tubuh siaga terus-menerus. Hasilnya, otot menegang, lambung memproduksi asam berlebih, dan jantung berdetak cepat seolah tubuh sedang menghadapi bahaya.
Tapi di luar penjelasan medis, ada sisi spiritual yang jarang dibahas. Kadang tubuh bukan hanya bereaksi terhadap stres pekerjaan atau beban hidup, melainkan terhadap rasa bersalah yang dipendam. Dosa yang belum disesali, dan ditaubati bisa menjadi bentuk stres batin paling dalam, yang menggerogoti ketenangan tanpa kita sadari.
Baca juga: Psikosomatis Dosa: Ketika Maksiat Menyiksa Pikiran, Merusak Jiwa, dan Menggerogoti Tubuh (#1)
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan, hati manusia bisa menjadi sumber sempitnya hidup. “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kesulitan ekonomi, tapi juga kesempitan jiwa — kecemasan, keresahan, hingga rasa takut yang tanpa sebab. Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka tak heran jika hati yang kotor bisa menular menjadi tubuh yang lemah, dan dosa yang dipelihara bisa berubah menjadi tekanan batin yang menekan dari dalam.
Psikologi menyebutnya guilt tension — ketegangan akibat rasa bersalah yang tidak terselesaikan. Saat seseorang menyakiti orang lain, menipu, atau berbuat curang, tapi menolak mengakuinya, konflik batin itu mencari jalan keluar. Kadang lewat mimpi buruk, kadang lewat tubuh yang rewel tanpa sebab.
Di titik ini, dokter bisa meredakan gejalanya, tetapi hanya taubat yang mampu menyembuhkan akarnya. Sama seperti terapi kognitif mengajarkan pasien menerima kenyataan, Islam mengajarkan muhasabah — mengenali kesalahan, menyesalinya, lalu memperbaikinya.
Penyembuhan psikosomatis bukan sekadar soal obat penenang atau olahraga rutin. Ia juga tentang menenangkan hati. Sebab tubuh bisa istirahat dengan tidur, tapi jiwa hanya pulih dengan kembali kepada Allah SWT. Cobalah sesekali beristighfar bukan karena merasa berdosa, tapi karena ingin hati menjadi tenang.
Mungkin rasa nyeri di dada kita bukan karena asam lambung, tapi karena ada amarah mendalam atau penyesalan yang belum dilepaskan. Kadang yang tubuh butuhkan bukan vitamin, tapi pertaubatan dan ampunan. https://lynk.id/faridfi. (*)
