Psikosomatis Dosa: Ketika Maksiat Menyiksa Pikiran, Merusak Jiwa, dan Menggerogoti Tubuh (#1)

Psikosomatis Dosa: Ketika Maksiat Menyiksa Pikiran, Merusak Jiwa, dan Menggerogoti Tubuh (#1)
*) Oleh : Farid Firmansyah, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Apakah Anda sering merasa gelisah tanpa sebab, jantung berdebar di malam hari, perut terasa melilit saat hati sedang kacau, atau tubuh terasa lelah padahal tak melakukan pekerjaan berat?

Banyak orang langsung mengira itu gangguan lambung, kecemasan, atau stres kerja. Padahal, bisa jadi itu bukan sekadar masalah medis — melainkan tanda-tanda psikosomatis akibat dosa. Dosa yang tidak disadari, atau sengaja diabaikan, bisa menjadi racun halus yang menyusup ke dalam sistem saraf kita. Ia merusak bukan hanya iman, tapi juga keseimbangan tubuh.

Dalam psikologi modern, istilah psychosomatic disorder digunakan untuk menggambarkan keluhan fisik yang muncul akibat konflik emosional dan tekanan batin. Stres kronis terbukti memengaruhi hormon kortisol, menurunkan sistem imun, dan mengganggu kerja pencernaan.

Namun dalam pandangan Islam, sumber stres terdalam tidak selalu berasal dari pekerjaan atau trauma masa lalu — tapi dari maksiat yang tidak diobati dengan taubat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menulis dalam ad-Da’ wa ad-Dawā’, “Sesungguhnya dosa itu melahirkan kesempitan hati, kegelisahan yang tak pernah reda, dan sakit batin yang tak mampu disembuhkan kecuali dengan kembali kepada Allah.”

Jika kita perhatikan, banyak orang yang tubuhnya tampak sehat tapi pikirannya terus gelisah. Ia menertawakan orang lain, tapi di dalam dirinya ada suara kecil yang menegur. Setiap kebohongan, setiap pandangan haram, setiap kezhaliman — semuanya meninggalkan jejak.

Dalam psikologi, hal ini disebut guilt complex, rasa bersalah yang ditekan tapi tak pernah benar-benar hilang. Dan dalam Al-Qur’an, Allah sudah menyebut sumbernya dengan gamblang: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit...” (QS. Thaha: 124).

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin, bila berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat dan memohon ampun, maka hatinya kembali bersih. Jika ia menambah dosanya, maka bertambah pula titik hitam itu hingga menutupi seluruh hatinya.” (HR. Tirmidzi).

Titik hitam itulah yang pada akhirnya menjadi beban psikis — menimbulkan kegelisahan, rasa takut, hingga keluhan tubuh yang tak jelas sebabnya. Dalam bahasa medis disebut psikosomatis, tapi dalam bahasa iman itu adalah tanda bahwa hati sedang meminta disucikan.

Maka jika tubuhmu sering lelah tanpa sebab, pikiranmu bising tanpa arah, dan hatimu terasa sempit padahal semuanya tampak baik-baik saja, mungkin ini waktunya berhenti sejenak. Bukan untuk mencari obat baru, tapi untuk mencari ampunan.

Dosa tidak hanya menutup jalan rezeki, tapi juga bisa menutup jalan ketenangan. Satu istighfar yang tulus mungkin lebih menenangkan dari segenggam obat penenang. Karena tubuh bisa sembuh dengan tidur, tapi jiwa hanya pulih dengan kembali kepada Tuhan. https://lynk.id/faridfi

Tinggalkan Balasan

Search