Psikosomatis Dosa: Mens Rea (#15)

Psikosomatis Dosa: Mens Rea
*) Oleh : Farid Firmansyah, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Kita sering berpikir, mengapa ada orang yang tubuhnya sakit terus-menerus, padahal secara medis hampir semuanya “normal”. Tidak ada tumor. Tidak ada infeksi. Tidak ada kelainan organ yang jelas. Tapi keluhannya nyata. Melelahkan. Menyiksa. Dan ketika ditelusuri lebih dalam, hampir selalu ada satu hal yang bersembunyi rapi di baliknya: konflik batin yang disadari sepenuhnya.

Di sinilah konsep mens rea menjadi menarik. Dalam hukum pidana, mens rea berarti niat batin—kesadaran, kehendak, dan sikap mental saat seseorang melakukan perbuatan. Dalam konteks dosa, mens rea bukan sekadar “tahu itu salah”, tapi tetap memilih melakukannya dengan sadar. Ada keputusan di sana. Ada persetujuan batin.
Dan tubuh… tubuh tidak pernah lupa.

Psikosomatis bukan sekadar “penyakit karena pikiran”. Ia adalah bahasa terakhir ketika jiwa sudah terlalu lama diam. Ketika seseorang melakukan dosa dengan mens rea yang jelas—sadar, terencana, berulang—maka konflik batin yang tercipta jauh lebih dalam dibanding dosa karena lalai atau ketidaktahuan. Ada pertentangan langsung antara nurani dan tindakan. Dan pertentangan itu harus disimpan di suatu tempat. Sering kali, tempat penyimpanannya adalah tubuh.

Kita pernah menemui orang-orang yang hidup dengan dada sesak bertahun-tahun. Nafas pendek. Jantung berdebar. Mereka bukan orang bodoh. Mereka tahu apa yang mereka lakukan salah. Mereka tahu harus berhenti. Tapi mereka juga tahu—mereka belum siap. Di sanalah mens rea bekerja terus-menerus, seperti suara kecil yang tidak pernah tidur. “Kamu tahu ini salah.” “Kamu memilihnya.” “Kamu bertanggung jawab.Bayangkan hidup dengan suara itu setiap hari.

Dalam psikologi, konflik batin yang disadari tapi ditekan menciptakan ketegangan kronis. Sistem saraf simpatik aktif terus. Kortisol naik. Otot tidak pernah benar-benar rileks. Lambung sensitif. Tidur terganggu. Tubuh berada dalam mode siaga, seolah ada bahaya, padahal bahayanya ada di dalam.

Inilah sebabnya dosa yang dilakukan dengan mens rea kuat sering kali menghasilkan gejala psikosomatis yang lebih berat dan menetap. Bukan karena Tuhan “langsung menghukum”, tapi karena jiwa manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam kebohongan yang disadari.

Yang lebih halus—dan lebih menyakitkan—adalah ketika seseorang mulai membenarkan dosanya. Rasionalisasi. Pembelaan diri. “Aku terpaksa.” “Semua orang juga begitu.” Secara kognitif, ia tampak tenang. Tapi tubuh justru mulai berbicara lebih keras. Migrain. Asam lambung. Nyeri otot berpindah. Panik tanpa sebab jelas. Tubuh menolak ikut berkompromi. Karena tubuh tidak bisa diajak berdamai dengan mens rea yang bertentangan dengan fitrah.

Di titik ini, taubat bukan hanya konsep spiritual. Ia adalah proses penyembuhan psikosomatis. Taubat berarti menyelaraskan kembali niat, kesadaran, dan tindakan. Mengakhiri konflik batin yang selama ini dipendam. Ketika seseorang benar-benar berhenti—bukan hanya perbuatannya, tapi juga pembenaran batinnya—sering kali tubuh ikut menghela napas. Bukan langsung sembuh. Tapi mulai tenang.

Psikosomatis dosa bukan mitos. Ia adalah akibat alami dari kesadaran yang dipaksa diam. Dari mens rea yang terus bekerja tanpa tujuan-tersesat. Dan selama konflik itu belum diselesaikan, tubuh akan terus berbicara—dengan caranya sendiri. https://lynk.id/faridfi

Tinggalkan Balasan

Search