Psikosomatis Dosa: Overthinking dan Insomnia (#18)

Psikosomatis Dosa: Overthinking dan Insomnia (#18)
*) Oleh : Farid Firmansyah, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Ada orang yang tubuhnya lelah, tapi pikirannya menolak berhenti. Lampu sudah mati. Mata terpejam. Tapi di dalam kepala, percakapan lama diputar ulang. Keputusan lama ditimbang lagi. Kesalahan kecil dibesarkan. Masa depan dipikirkan seolah harus diselesaikan malam ini juga. Inilah overthinking. Dan insomnia sering datang sebagai pasangannya yang setia.

Overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan. Ia adalah tanda bahwa jiwa sedang gelisah. Ada sesuatu yang belum selesai. Belum diterima. Belum dimaafkan. Dan malam—ketika semua distraksi berhenti—menjadi waktu paling jujur untuk menghadapi itu semua.

Dalam psikologi, tidur membutuhkan rasa aman. Otak hanya akan “mematikan lampu” ketika ia yakin tidak ada ancaman. Masalahnya, ancaman itu tidak selalu datang dari luar. Sering kali, ia datang dari dalam: rasa takut, penyesalan, dan rasa bersalah yang dipendam.
Rasa bersalah—terutama yang lahir dari dosa yang disadari—memiliki cara kerja yang halus tapi melelahkan. Ia tidak selalu muncul sebagai pikiran jelas. Ia lebih sering hadir sebagai kegelisahan samar. Seperti suara kecil yang berbisik, “Ada yang salah.” Dan suara itu sulit tidur.

Kegelisahan ini tidak berhenti di pikiran. Ia turun ke tubuh. Sistem saraf simpatik aktif. Detak jantung sedikit meningkat. Otot tetap tegang. Napas tidak benar-benar dalam. Tubuh berada dalam mode waspada. Maka meskipun mata terpejam, tidur tidak pernah benar-benar datang. Insomnia, di titik ini, bukan masalah tidur. Ia adalah masalah ketenangan batin.

Banyak orang yang overthinking di malam hari sebenarnya bukan orang yang ceroboh. Mereka justru orang yang peduli. Ingin bertanggung jawab. Ingin benar. Ingin tidak menyakiti siapa pun. Tapi kepedulian yang tidak disertai penerimaan berubah menjadi tekanan. Dan tekanan yang dipendam berubah menjadi insomnia.

Ada pola yang sering berulang. Siang hari, mereka tampak baik-baik saja. Sibuk. Produktif. Tapi malam hari, tubuh menagih. Pikiran yang seharian ditekan akhirnya naik ke permukaan. Overthinking muncul. Tidur menjauh. Dan keesokan harinya, kelelahan membuat kontrol emosi melemah—yang justru memperparah overthinking malam berikutnya.
Inilah lingkaran psikosomatiknya.

Dalam perspektif spiritual, Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketenangan bukan datang dari kontrol total, melainkan dari penyandaran:
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan hati bukan konsep abstrak. Ia memiliki dampak biologis. Saat hati tenang, sistem saraf parasimpatik aktif. Tubuh masuk mode istirahat. Tidur menjadi mungkin. Pikiran tidak harus diam, cukup melembut.

Di sinilah psikosomatis dosa menemukan maknanya. Bukan karena Allah “menghukum” lewat insomnia, tetapi karena manusia tidak diciptakan untuk terus hidup dalam konflik batin. Ketika nurani dan perilaku bertabrakan, tubuh menjadi tempat terakhir yang menyimpan ketegangan itu.

Tidur adalah bentuk kepercayaan. Percaya bahwa tidak semua hal harus selesai malam ini. Percaya bahwa tidak semua kesalahan harus dihukum dengan begadang. Percaya bahwa diri boleh berhenti, meski hidup belum sempurna.

Mungkin, insomnia yang berkepanjangan bukan sekadar gangguan tidur. Mungkin ia adalah pesan lembut dari tubuh yang berkata:
“Berhentilah menghukum dirimu di malam hari.” Dan mungkin, kesembuhan dimulai ketika kita belajar satu hal sederhana namun sulit: mengizinkan diri untuk istirahat, meski belum sempurna. https://lynk.id/faridfi

Tinggalkan Balasan

Search