Psikosomatis Dosa: Stress–Gut Axis (#17)

Psikosomatis Dosa: Stress–Gut Axis (#17)
*) Oleh : Farid Firmansyah, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Ada orang yang perutnya tidak pernah benar-benar tenang. Bukan karena ia makan sembarangan.
Bukan juga karena lambungnya lemah sejak lahir. Tapi karena pikirannya tidak pernah pulang. Dalam dunia psikologi dan kedokteran, ada satu konsep penting yang belakangan semakin sering dibicarakan: stress–gut axis.

Hubungan dua arah antara otak dan saluran cerna. Apa yang terjadi di kepala—cemas, takut, tertekan—langsung terasa di perut. Dan apa yang terjadi di perut—nyeri, mual, perih—kembali memengaruhi suasana hati dan pikiran.
Sumbu ini bekerja diam-diam. Tapi setia.

Yang jarang dibicarakan adalah satu hal lain yang sering menyelinap di dalam stres: rasa bersalah. Terutama rasa bersalah yang lahir dari dosa yang disadari, dipendam, lalu dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian.
Stres tidak selalu datang dari pekerjaan atau masalah ekonomi. Banyak stres lahir dari konflik batin. Dari hidup yang dijalani tidak selaras dengan nurani. Dari keputusan yang kita tahu salah, tapi tetap kita ambil. Dari kebohongan yang kita jaga rapi agar tidak runtuh. Tubuh tahu.

Saat seseorang hidup dalam tekanan batin seperti ini, otak mengirim sinyal bahaya terus-menerus. Sistem saraf simpatik aktif. Tubuh siaga. Lambung memproduksi asam lebih banyak. Gerak usus terganggu. Otot-otot pencernaan menegang. Proses cerna tidak lagi berjalan dengan tenang. Inilah stress–gut axis bekerja dalam bentuk paling nyata.

Banyak orang dengan gangguan lambung kronis—dispepsia, GERD, perut begah yang tak jelas sebabnya—hidup dalam pola yang sama. Mereka jarang marah. Jarang mengeluh. Terlihat kuat. Tapi di dalam, mereka menahan terlalu banyak. Menelan terlalu banyak. Dan saluran cerna, yang paling jujur, akhirnya bersuara.

Stres yang bersumber dari dosa memiliki karakteristik yang khas. Ia tidak selalu meledak. Ia lebih sering menetap. Menjadi gelisah samar. Menjadi cemas tanpa nama. Menjadi rasa tidak tenang yang sulit dijelaskan. Dan setiap kali malam tiba, ketika kesibukan berhenti, gejala muncul. Perut perih. Dada panas. Mual. Sulit tidur.
Seolah tubuh berkata: “Ada yang belum selesai.”

Dalam perspektif psikosomatik, tubuh bukan musuh. Ia bukan pengkhianat. Ia adalah pengingat. Ketika otak terus memaksa diam, tubuh mengambil alih peran bicara. Dan saluran cerna adalah salah satu medianya yang paling keras, sekaligus paling jujur.

Menariknya, banyak orang melaporkan hal yang sama: keluhan lambung membaik saat mereka merasa tenang. Saat liburan. Saat berdoa dengan sungguh-sungguh. Saat berhenti menghakimi diri. Saat berani jujur—entah kepada Tuhan, atau kepada diri sendiri. Ini bukan sugesti. Ini fisiologi.

Saat hati tenang, sistem saraf parasimpatik aktif. Tubuh masuk ke mode pemulihan. Pencernaan membaik. Asam lambung menurun. Usus bergerak lebih harmonis. Stress–gut axis beralih dari mode ancaman ke mode penyembuhan.

Di titik ini, kita mulai memahami bahwa psikosomatis dosa bukan hukuman instan dari Tuhan. Ia lebih mirip konsekuensi alami dari hidup yang dijalani dalam konflik batin berkepanjangan. Manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus menentang nuraninya tanpa dampak. Tubuh akan menagih kejujuran.

Maka penyembuhan gangguan lambung psikosomatik tidak cukup dengan obat saja. Obat perlu. Diet penting. Tapi selama stres batin dan rasa bersalah terus dipelihara, stress–gut axis akan terus aktif. Tubuh akan terus siaga. Gejala akan mudah kambuh.

Di sinilah taubat, kejujuran batin, dan keberanian berdamai menjadi bagian dari terapi. Bukan dalam arti religius yang sempit, tapi sebagai proses penyelarasan kembali antara pikiran, hati, dan tindakan. Ketika konflik batin mereda, tubuh sering kali ikut melembut.

Mungkin, perut yang perih itu bukan sekadar masalah lambung. Mungkin ia adalah pesan terakhir dari jiwa yang terlalu lama diam. Dan mungkin, kesembuhan dimulai bukan dari apa yang kita makan—
tetapi dari apa yang akhirnya kita akui, lepaskan, dan perbaiki. https://lynk.id/faridfi

 

 

Tinggalkan Balasan

Search