Ada satu ayat yang sering terngiang tiap kali saya mendengar kisah seseorang yang jatuh dalam zina: “Janganlah kalian mendekati zina…” (QS. Al-Isra’: 32). Allah tidak bilang “jangan berzina”, tetapi jangan mendekati, seolah ingin mengatakan bahwa dosa ini tidak datang sebagai ledakan besar, melainkan langkah kecil yang pelan… sangat pelan.
Zina jarang datang tiba-tiba. Ia merayap, merembes melalui celah-celah kecil kesepian manusia. Dalam psikologi, hubungan terlarang seperti ini sering dijelaskan sebagai perpaduan dopamin, oksitosin, dan adrenalin yang muncul berlebihan. Itu sebabnya ia terasa nikmat sesaat, seperti semacam “lupa diri yang menyenangkan”. Tapi sesudah itu? Kosong. Gelisah. Rasa bersalah yang menekan dada. Bahkan yang paling keras sekalipun.
Nabi ﷺ pernah mengingatkan bahwa setiap bagian tubuh bisa “berzina”: mata, mulut, hati… sebelum akhirnya kemaluan membenarkan atau mendustakan (HR. Muslim). Hadis ini menjadi kebenaran psikologi modern: zina adalah proses, bukan peristiwa tunggal. Ia dimulai dari fantasi di kepala, dari pesan yang seharusnya tidak dibalas, dari rasa nyaman yang tidak semestinya diberikan.
Yang mengerikan dari zina bukan hanya dosa fisiknya. Tetapi apa yang ia lakukan pada jiwa seseorang. Banyak orang yang bercerita, mereka bilang, “Saya merasa jijik pada diri sendiri.” Ada yang bilang ia kehilangan rasa berharga, kehilangan izzah.
Psikologi menyebut ini moral injury, luka batin yang muncul karena melanggar nilai diri sendiri. Dan Al-Qur’an menguatkan hal itu dengan kalimat yang tegas: “Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
Zina tidak hanya merusak tubuh, ia merusak struktur batin manusia—kepercayaan diri, harga diri, bahkan kemampuannya untuk mencintai dengan cara yang benar. Ibadah terasa berat, doa terasa jauh, hati seperti dilapisi debu tebal. Kita melihat banyak wajah yang kehilangan cahayanya setelah terjatuh dalam zina.
Selain merusak jiwa, zina juga memengaruhi tubuh. Banyak yang mengalami kecemasan kronis, insomnia, jantung berdebar tanpa sebab, bahkan penurunan imun tubuh. Psikoneuroimunologi menjelaskan bahwa rasa takut ketahuan, rasa bersalah, dan tekanan emosional itu memicu stres berulang yang membuat tubuh kelelahan. Dan anehnya, meski pelaku zina biasanya merasakan “nikmat” di awal, di akhir mereka justru kelelahan secara mental.
Zina juga merusak hubungan sosial. Perselingkuhan menghancurkan kepercayaan pasangan, kehormatan keluarga, dan kadang meretakkan masa depan. Banyak rumah tangga yang hancur bukan karena kurang cinta, tapi karena seseorang kehilangan kendali atas satu langkah kecil… yang akhirnya menjadi jurang.
Namun, di balik semua luka itu, kita selalu kembali pada satu kalimat Allah yang paling lembut:
“Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Dan pada satu hadis Nabi ﷺ yang begitu menenangkan: Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan. Kita pernah melihat seseorang bangkit dari keterpurukan zina—perlahan, dengan air mata, dengan penyesalan yang dalam.
Dan kita tahu, manusia bukan diciptakan untuk hidup dalam kehancuran selamanya. Ada ruang untuk pulang. Ada jalan untuk menyembuhkan diri dan mengembalikan kehormatan. Zina memang dosa besar yang menghancurkan diam-diam, tapi rahmat Allah selalu lebih cepat mengetuk hati siapa pun yang ingin kembali. https://lynk.id/faridfi
