Dalam Islam puasa itu disebut dengan istilah shiyam dan shaum yang berasal dari kata shama – yashumu – shauman – shiyaman. Meski ada juga yang membedakan antara shaum dan shiyam, namun keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “puasa”.
Istilah puasa sendiri dikenal dalam berbagai agama. Dalam Islam, berarti imsak, menahan diri. Menahan diri dari ucapan, nafsu, dan pikiran. Puasa dalam Islam memiliki tujuan agar nuansa dan gairah (mention) spiritualitas tumbuh dalam diri manusia.
Lebih dari itu, puasa itu mengajak manusia untuk menahan diri dari dorongan-dorongan yang bersifat fisik (makan, minum dan keinginan seksual). Dari sini, puasa itu menumbuhkan pesan moral otonomi dalam diri dan pengendalian diri atas hawa nafsu.
Moral otonomi menumbuhkan sikap ikhlas dan ketulusan. Ikhlas itu lahir dari suara dalam diri. Ikhlas menjalankan sesuatu dengan mendengar kata hatinya yang paling dalam. Karenanya, orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan diri dari dorongan kekuatan fisiknya.
Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a. riwayat Bukhari, bahwa as-siyaamu junnatun “Puasa itu “junnah” atau perisai. Maka, janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Apabila ada orang yang memeranginya atau mencaci makinya, hendaklah ia berkata “sesungguhnya aku sedang berpuasa”. Fa Quuluu inni shaim.”
Dalam riwayat lain dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“
“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (H.R. Ahmad, shahih).
Bukan hanya mulut, perut dan kemaluan yang mesti dikendalikan, tapi juga seluruh organ tubuh yang harus dijaga dan dikendalikan. Ada tujuh lubang yang harus dikendalikan agar setan tidak masuk ke dalam tubuh kita, mulai dari mata, telinga, mulut, hidung, hingga kemaluan.
Jika hadis di atas menyebutkan “menjaga lidah”, maka hal itu karena sangat istimewa. Ungkapan “Lidah itu tidak bertulang” dimaksudkan betapa lentur dan tidak ada terstrukturnya lidah, sehingga untuk mengatur dan mengendalikannya bukanlah perkara mudah.
Puasa itu salah satunya mengurangi suara mulut. Jika mulut kita terlalu banyak berbicara, biasanya ia sudah tidak sanggup lagi mendengarkan suara hati nuraninya.
Ketika tangan memberi satu kali, maka lisan sudah menyampaikan tentang pemberian itu 10 kali. Ketika kaki baru lima langkah menuju masjid, bisa jadi lisan kita sudah berbicara 50 kata kepada teman kita di jalan. Ironisnya, ada bau riya’, sum’ah, ujub (bangga) dan bahkan ghibah di dalamnya.
Ketika kita sedang bercerita dengan teman kita pun demikian halnya. Saat telinga baru menangkap lima kalimat dari lawan bicara, lisan kita sudah tak sabar langsung menyambar berbicara dan lupa kewajiban mendengarkan isi pembicaraan teman kita tadi.
Hal itu bisa terjadi, karena ketika orang lain berbicara, telinga kita bukannya mendengarkan dan mencoba memahami apa yang didengarnya, tapi justru kepala kita sibuk memikirkan apa yang akan diucapkan. Inilah egoisme kita yang tidak mudah untuk dikendalikan.
Kita bisa belajar dari kisah Maryam dan isteri Nabi Zakaria. Ketika Maryam yang “menghilang” dari kerumunan lalu tiba-tiba muncul kembali setelah sekian lama dengan menggendong seorang bayi, orang-orang itu bertanya,
“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, 29. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: “Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” (QS. Maryam: 28-29)
Maryam dipanggil saudara perempuan Harun, karena ia seorang wanita yang salihah seperti kesalehan Nabi Harun a.s. Maryam tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena Allah memerintahkan kepadanya agar puasa bicara.
Ia diperintahkan untuk tidak menanggapi omongan orang-orang.
“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini“. (QS. Maryam: 26)
Akhirnya, atas kehendak Allah bayi yang ada dalam gendongan Maryam itu berkata,
“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (QS. Maryam: 30-33)
Seorang ulama sufi Sayyed Haidar Amuli mengatakan, “jika kita terlalu banyak berbicara, maka kita takkan mampu mendengarkan isyarat gaib yang datang kepada kita. Kita juga tidak sanggup mendengar kata-kata hati nurani kita. Suara mulut kita terlalu bising, sehingga isyarat-isyarat dari alam malakut tak terdengar oleh batin kita. Kita terlalu banyak suara kita sendiri.”
Masih dari Surah Maryam. Kita belajar dari Nabi Zakaria a.s. yang juga diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa bicara. Nabi Zakaria adalah Nabi yang tidak diberi keturunan hingga usianya telah tua. Tetapi, meski seperti tidak mungkin, ia tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah, karena ia yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Lalu Allah memberi kabar gembira bahwa beliau akan dikaruniai seorang anak bernama Yahya.
Menariknya, Nabi Zakaria sendiri hampir tidak percaya (QS. Maryam: 8). “Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak keturunan bagiku, Padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
Lalu Allah pun menjawab, “Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
Karena masih penasaran, Nabi Zakaria pun bertanya lagi,
“Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu sehat”.
Allah memerintahkan Nabi Zakaria untuk mensyukuri nikmat-Nya dengan puasa bicara. Kisah ini juga memberikan sebuah pelajaran agar kita sebagai seorang suami, ketika isteri kita sedang hamil, tidak terlalu banyak berbicara. Termasuk seorang yang sedang hamil juga penting berpuasa bicara.
Dengan izin Allah, anak yang akan lahir nanti akan menjadi anak seperti Nabi Yahya yang cerdas, arif, berhati lembut dan mudah mendengarkan nasehat, bertakwa kepada Allah, berkhidmat kepada kedua orang tua dan tidak pernah memaksakan kehendaknya. Inilah sebagai balasan kepada orang-orang yang puasa bicara.
Berbicara memang lebih mudah daripada mendengarkan. Karena ketika berbicara kita cenderung untuk melepaskan ego, sedangkan ketika mendengarkan, kita harus menahan dan mengendalikan ego.
Ada pepatah “Big egos have little ears,” orang yang egonya besar, biasanya memiliki telinga yang kecil. “Telinga kecil” adalah simbol kekikiran atau keengganan orang yang berego besar untuk mendengar orang lain. Saking lebih bernilainya mendengar daripada berbicara, sehingga ada pepatah “berbicara itu perak” dan “diam mendengarkan itu adalah emas”.
Namun, ada juga mendengar tapi sesungguhnya tidak mendengar, dalam bahasa Inggris dibedakan antara hearing dan listening. Hearing itu mendengar tanpa ada kesungguhan untuk memahami apa yang didengarnya. Sementara itu, listening itu mendengar dengan kesungguhan dan bukan basa-basi.
Tentu saja tidak mudah untuk menjadi pendengar yang baik dan sungguh-sungguh, karena untuk itu dibutuhkan kerendahan hati, kesabaran dan sikap empati yang tinggi. Selain itu, bukan perkara mudah memahami apa yang didengar karena sesungguhnya setiap kepala itu memiliki dunia sendiri yang juga kompleks.
Karena menarik dan kompleksitasnya urusan mendengar, seorang filsuf Jerman, Erich Fromm, pada tahun 1994 menulis buku The Art of Listening atau Seni Mendengarkan.
Inilah renungan bagi kita yang akan dan sedang berpuasa. Betapa kecenderungan mudahnya untuk berkata tapi sulit untuk mendengarkan Betapa mudahnya mengomen¬tari tapi merasa tidak nyaman untuk dikomentari, apalagi dikritik atau saran. Pepatah Arab mengatakan “khairul kalam maa qalla wa dalla” (sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit tapi jelas dan bermanfaat.
Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, kita beriktikaf dengan banyak merenungkan diri, berdzikir dan membaca Al-Qur’an. saat merenung kita sesungguhnya sedang mendengarkan suara hati kita. Saat berdzikir kita mengagungkan dan meresapkan keagungan dan kelembutan Tuhan. Saat kita membaca kalam Ilahi kita sedang mendengar firman Allah. Iktikaf adalah berdiam diri dan mendiamkan lisan dan mulut kita. Wallahu a’lamu bi al-shawab. (*)
