Tahun 2025, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis hasil survey tentang menyontek (cheating) di lembaga pendidikan. Hasilnya cukup mengejutkan. Kasus menyontek ditemukan di 78 persen sekolah dan 98 persen kampus. Plagiarisme ditemukan di 6 persen sekolah dan 43 persen perguruan tinggi.
Menyontek merupakan masalah akademik, sosial, dan moral yang serius. Mengapa pelajar dan mahasiswa menyontek? Pertama, ambisi sukses yang terlalu tinggi karena tekanan orang tua, gengsi, dan kompetisi. Kedua, mentalitas instan, menerabas, kurang percaya diri, dan pragmatis; ingin berhasil tapi kerja nihil. Ketiga, sistem ujian dan pengawasan yang lemah. Keempat, hal yang lumrah, bahkan telah menjadi tradisi.
Berbagai penelitian menunjukkan kebiasaan menyontek dapat merusak kepribadian dan mental. Menyontek merupakan perilaku tercela yang menyebabkan seseorang menjadi pembohong, koruptor, kleptokrat, suka menerabas aturan, melanggar hukum, dsb. Kebiasaan tersebut membuat seseorang gagal dalam berkarir. Integritasnya dan reputasinya hancur.
Dahulu, seseorang menyontek dengan membuat contekan. Sekarang, pelajar dan mahasiswa menyontek dengan kecerdasan artifisial, chat gpt, dan teknologi canggih lainnya. Apapun moda dan modusnya, menyontek tetap merupakan perbuatan tidak terpuji.
Karena itu, pendidikan moral perlu diperkuat. Salah satunya melalui ibadah puasa. Puasa mendidik manusia berperilaku jujur. Ketika sedang berpuasa, manusia sangat dekat dengan Allah. “Dan, jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah); sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku kabulkan doa hamba jika ia meminta kepada-Ku (Al-Baqarah [2]: 186).
Seorang yang berpuasa menyadari bahwa Allah Maha Melihat, Mendengar, dan Mengetahui semua perbuatan dan perkataan manusia, baik yang tersembunyi, rahasia, atau terbuka. Manusia akan berbuat baik walaupun tidak ada yang melihat atau mencatat.
Mari berpuasa yang sesungguhnya. Stop cheating. Berhenti menipu. Akhiri korupsi.
