Puasa Itu Istimewa
Fenomena alam menjadi pelajaran bagi kita, bahwa dengan puasa, binatang yang paling perusak dan menjijikkan bisa berubah menjadi hewan yang menyenangkan dipandang, menjadi sangat dibutuhkan keberadaannya. Ulat menjadi kupu-kupu.
Puasa sungguh ibadah yang paling istimewa, selain bisa merubah karakter buruk menjadi akhlak yang mulia, puasa adalah ibadah khusus untuk Allah. Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي به
Artinya: “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna bahwa puasa spesial untuk Allah adalah:
1. Allah yang menentukan pahala puasa: Hanya Allah yang tahu niat dan keikhlasan seseorang saat berpuasa, sehingga Allah sendiri yang menentukan pahalanya.
2. Puasa adalah rahasia antara hamba dan Allah: Puasa adalah ibadah yang tidak terlihat oleh orang lain, sehingga hanya Allah yang tahu keikhlasan seseorang.
3. Allah yang memberi kekuatan untuk berpuasa: Puasa memerlukan kekuatan dan kesabaran, yang hanya bisa diberikan oleh Allah.
4. Puasa adalah bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah: Puasa adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan keimanan.
Puasa amal ibadah yang jauh dari riya dan nyaris sempurna bentuk ketaatannya. Ketika dilarang makan minum mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Perintah itu bisa dilaksanakan dengan penuh ketaatan, bahkan bagi yang sudah kecanduan rokok, yang sering bilang paginya lebih baik tidak sarapan daripada tidak merokok, dipastikan saat puasa mampu untuk tidak merokok. Tentu itu dilakukan sebagai bentuk ketaatan taqarub kepada Allah.
Puasa Yang Sia-Sia
Selain yang membatalkan puasa, ada amalan yang harus kita waspadai, karena puasa akan menjadi sia-sia, tidak istimewa lagi. Hal tersebut lantaran lisan yang suka berbohong, berbicara kotor dan kasar pada orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dengan puasanya (menahan) makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Seseorang bisa meninggalkan makan dan minum mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, namun kadang tidak bisa menahan emosinya kitika berbicara dengan pasangan dan putra-putrinya, temperamen dan membentak-bentak. Rasulullah telah mengingatkan pada saat berpuasa agar bisa menjaga lisan dari ucapan kotor dan kasar.
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
Artinya: “Jika salah seorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan janganlah ia berteriak-teriak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan bulan istimewa, bulan pengampunan dan rahmat, bulan menggapai cita-cita mulia untuk meraih cinta Allah Tuhan Semesta. Jangan sampai terlena dengan masih disibukkan dengan urusan dunia. Berpuasa namun masih kurang disiplin dalam menjaga salatnya, berpuasa namun sedikit baca Qur’an dan sedekahnya.
Ramadan bulan prioritas memperbaiki kualitas hidup dengan mengoptimalkan semua aspek amalan yang bernilai ibadah. Ramadan, bulan puasa dari lisan dusta, kotor dan kasar. (*)
