Allah menciptakan alam semesta ini tidak dengan main-main. Selalu ada rahasisa di balik ciptakan-Nya. Tidak ada yang sia-sia Allah menciptakan alam semesta ini. Hampir semua yang diciptakan Allah selalu ada manfaat bagi keseimbangan alam dan manusia, tentunya. Hanya saja, manusia dengan keterbatasan akal pikirannya dan keangkuhan dirinya sering tidak mampu menembus batas kerahasiaan semesta ini. Karenanya, tidak berarti bahwa ciptaan-Nya tidak ada manfaatnya. Semua tergantung sampai di mana manusia mampu memikirkan dan mengambil hikmahnya.
Dalam konteks berpuasa, kita bisa belajar dari puasa yang dilakukan oleh manusia dan semua jenis makhluk-Nya. Bukan hanya manusia yang melakukan puasa untuk tujuan tertentu, binatang ciptaan Tuhan pun berpuasa dengan tujuan tertentu. Ayam yang mengerami telurnya juga berpuasa. Hewan unggas ini bisa tidak makan dan minum selama beberapa hari untuk menjaga kehangatan badannya. Dengan hangat dan panas itu telur yang dierami akan bisa berubah menjadi anak ayam.
Ular yang berbisa dan kadang berbahaya bagi manusia juga melakukan puasa. Puasa dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Untuk itu, ia harus mengganti kulitnya secara berkala. Pada saat mengganti kulitnya itulah ia akan berpuasa, tidak makan dan tidak minum sampai keluar kulit baru.
Menariknya, setelah berpuasa dan mendapatkan kulit yang baru, wajah dan watak ular antara sebelum dan sesudah puasa tidak berubah. Tetap sama seperti sebelumnya. Tabiatnya buasnya tetap sama. Yang dimakan juga tetap sama. Cara bergerak dan kebiasaannya juga sama.
Beda halnya dengan puasa yang dilakukan oleh seekor ulat. Sesungguhnya ulat ini termasuk hewan yang rakus, karena hampir sepanjang hidupnya digunakan untuk makan. Kendati demikian, ia tidak pernah kenyang atau membesar. Tidak berimbang dengan makanan yang dilahap.
Menariknya, begitu sudah bosan makan, ia akan melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Ia mengasingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kokon (kepompong), sehingga tak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya. Meski sakit, tetapi tetap saja ia lakukan.
Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon itu seekor makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu. Wajahnya yang awalnya menjijikkan menjadi indah mempesona. Namanya juga berubah menjadi kupu-kupu. Makanannya yang sebelumnya sembarangan, kini hanya menghisap saripati bunga yang baik-baik.
Perilakunya yang biasanya melatah di tanah yang kotor, setelah berpuasa ia terbang tinggi dan tampak indah dipandang mata. Ia hinggap di dedauan yang hijau dan bebungaan yang indah. Tabiatnya juga berubah, dari perusak dan pemakan daun setelah berpuasa menjadi penghidup dan pengembang biak tetumbuhan dengan cara penyerbukan bunga.
Pertanyaannya sekarang, kita hendak memilih puasa yang mana: seperti puasanya ular atau ulat? Manusia tentu jauh lebih mulia dari seorang hewan. Ia bisa berpikir dengan jernih, memiliki hati yang bisa menyentuh perasaan dan pengalaman spiritual. Manusia memiliki sifat hewan, tapi hanya sekedar sebagai penopang hidup jasmaniah untuk menggapai kesempurnaan hakiki sebagai manusia. Karena kemuliaan hidupnya tidak ada pada jasad fisiknya.
Puasa Ramadan yang diwajibkan kepada manusia lebih dari sekedar perintah menahan dari lapar dan dahaga, tetapi puasa (apalagi sebulan penuh) semestinya membentuk watak seseorang untuk menjadi sempurna (muttaqin). Ada banyak ciri muttaqin yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an. (*)
